Presiden Terguling Sembunyi di Kamp Militer

Presiden Terguling Sembunyi di Kamp Militer
Presiden Terguling Sembunyi di Kamp Militer
BAMAKO – Gejolak masih terasa di Mali sehari setelah kudeta militer yang berakhir dengan lengsernya Amadou Toumani Toure dari kursi presiden. Desing peluru masih terdengar di beberapa kawasan ibu kota seiring dengan meningkatnya kecaman dari berbagai belahan dunia. Hingga kemarin (23/3) keberadaan Toure masih belum jelas.

Komite Nasional demi Penegakan Demokrasi, kelompok militer yang melancarkan kudeta Kamis lalu (22/3), langsung mengambil alih kekuasaan. Kemarin mereka memerintahkan penutupan seluruh perbatasan Mali. Mereka menegaskan kembali niatnya untuk mendirikan pemerintahan yang lebih baik. Setidaknya yang mampu mengatasi pemberontakan suku Tuareg di kawasan utara.

Letnan Amadou Konare, juru bicara junta militer yang berkuasa di Mali, mengatakan bahwa pemerintahan Toure tidak becus membela negara dari ancaman separatisme. ”Pengambilalihan kekuasaan (kudeta) ini merupakan buntut lemahnya militer dan pemerintah dalam membela negara,” cetusnya. Karena itu, junta militer akan segera memilih presiden baru dan membentuk pemerintahan anyar.

Selama pemilihan presiden belum terselenggara, menurut Konare, junta militer akan memberlakukan jam malam di seluruh negeri. Dengan demikian, militer bisa lebih mudah mengendalikan situasi negara pascakudeta. ”Kapten Amadou Sanogo, pimpinan junta, akan menerapkan kondisi darurat ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” ungkapnya.

Untuk meredam gejolak, Sanogo pun memerintah seluruh pegawai negeri sipil di Mali segera kembali bekerja. ”Pemimpin junta berharap kondisi pemerintahan bisa kembali normal pada Selasa mendatang (27/3),” papar Konare.

BAMAKO – Gejolak masih terasa di Mali sehari setelah kudeta militer yang berakhir dengan lengsernya Amadou Toumani Toure dari kursi presiden.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News