Produksi CPO Stagnan, PalmCo Genjot Transformasi Kebun Rakyat
jpnn.com, JAKARTA - Industri kelapa sawit nasional menghadapi tekanan ganda dalam lima tahun terakhir.
Di satu sisi, permintaan terhadap produk sawit berkelanjutan semakin ketat di pasar global. Di sisi lain, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia justru cenderung stagnan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan stagnasi produksi menjadi tantangan paling mendesak yang kini dihadapi industri sawit nasional.
“Lima tahun terakhir produksi stagnan. Pada 2025 memang naik sedikit. Produksi CPO sekitar 51,6 juta ton, total produksi 56,5 juta ton. Padahal seharusnya bisa lebih dari 60 juta ton,” sebut Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Senin (25/5).
Menurut Eddy, salah satu penyebab utama stagnasi ialah lambatnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Padahal, program tersebut dinilai strategis untuk mengganti tanaman tua dengan bibit unggul yang lebih produktif.
Selain persoalan produktivitas, sektor sawit nasional juga menghadapi tantangan sertifikasi dan keterlacakan rantai pasok. Tuntutan itu semakin menguat setelah Uni Eropa menerapkan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan produk bebas deforestasi serta dapat ditelusuri hingga tingkat kebun.
Eddy menilai kesiapan petani rakyat dalam memenuhi standar tersebut masih rendah.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan stagnasi produksi menjadi tantangan paling mendesak yang kini dihadapi
- Pupuk Indonesia Bekali Petani Wanita dan Cilik dengan Pemupukan Berimbang
- B50 Meluncur, Mentan Amran: Hilirisasi Sawit Perkuat Ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani
- Temu Ilmiah ITP2I Bahas Inovasi dan Teknologi Industri Sawit Berkelanjutan
- Kementan Dorong Teknologi Biodiesel B100 Diadopsi Petani
- Seusai Kunjungan Kapolri, Kapolres Kampar Pastikan Distribusi Bantuan Pupuk Lancar Hingga ke Petani
- Tahun Ini Palmco Bagikan Dividen Rp 2,83 Triliun
JPNN.com




