Putra Sang Fajar yang Tak Pernah Padam: Mewarisi Api Soekarno di Tengah Badai Zaman
Oleh: Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH - Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan dan Ketua Umum IKA Doktor Hukum UKI
jpnn.com - "Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari pada masa yang akan datang." — Ir. Soekarno.
Fajar menyingsing di Surabaya pada 6 Juni 1901, menandai lahirnya seorang bayi laki-laki yang kelak akan mengubah garis takdir jutaan manusia di Nusantara.
Lahir pada saat fajar merekah, ia dijuluki Putra Sang Fajar.
Dialah Koesno Sosrodihardjo, yang dunia kemudian kenal dengan nama Soekarno, Bapak Bangsa, Proklamator, dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Julukan "Putra Sang Fajar" bukanlah sekadar epitet puitis yang disematkan untuk meromantisasi sejarah, melainkan sebuah penanda takdir yang mengakar pada fakta kelahiran dan kedalaman filosofis perjalanannya.
Secara harfiah, Koesno Sosrodihardjo lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, tepat pada saat fajar merekah dan matahari baru saja merobek tirai malam.
Dalam kepercayaan kultural Jawa dan Bali yang mengalir deras dalam nadinya, kelahiran di ambang transisi antara gelapnya malam dan terangnya pagi bukanlah sebuah kebetulan.
Hal tersebut diyakini sebagai tanda kosmis, sebuah garitan takdir bahwa sang anak akan memikul beban sejarah yang besar.
Julukan ‘Putra Sang Fajar’ kepada Soekarno bukanlah sekadar epitet puitis yang disematkan untuk meromantisasi sejarah, melainkan sebuah penanda takdir.
- Ingatkan Deddy Sitorus, Rusli Habibie: Jangan Politisasi Persoalan Batu Bara PLN
- Mahfud MD Usul KPK Takeover Kasus Febrie Adriansyah, Komisi III DPR Merespons Begini
- Komisi III Minta Jaksa Agung Singkirkan Lingkaran Febrie di Pidsus
- Misbakhun Dorong Evaluasi HPP GKP Rp 6.500/Kg, Begini Alasannya
- Pengkhiatan di Jantung Keadilan: Menggugat Elite Penegak Hukum Dalam Terang Pancasila dan ASTA CITA
- Heikal Safar Dukung Hukuman Mati untuk Para Koruptor Kasus-Kasus Besar
JPNN.com




