Ratapan di Tanah Perjanjian
Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta
jpnn.com - Tanah Papua, benteng terakhir hutan tropis Indonesia dan paru-paru planet bumi menyimpan keindahan alam yang dipuja. Namun, juga memori yang kompleks.
Memori itu hidup dalam kisah lisan, dokumen, dan ruang eksibisi, mengandung nilai yang dalam.
Di Sorong Selatan, seorang perempuan suku Afsya bertanya, “Kenapa tra bunuh kitong satu kali?”
Pertanyaan ini bukan keluh kesah biasa, melainkan gema kecemasan eksistensial yang menghantui banyak komunitas adat di Tanah Papua.
Mereka merasa terkurung - dari darat oleh ekspansi sawit, dari laut oleh proyek karbon.
Di Merauke, berjarak ribuan kilometer, Liborius Moiwend berdiri di Mahkamah Konstitusi dengan suara lirih.
Ia bercerita tentang transformasi drastis tanah leluhur: dari hutan dan rawa penghidupan menjadi hamparan monokultur tebu.
Ia mempertanyakan narasi “panen raya” pemerintah yang mengaburkan asal-usul kemakmuran yang diklaim.
Menjaga hutan dan hak-hak masyarakat adat Papua bukanlah penghambat kemajuan, melainkan prasyarat untuk keberlanjutan dan kedamaian bangsa.
- Emas, Iman, dan Harga Diri
- Gubernur Papua Canangkan 6 Program Unggulan di Musrenbang RPJMD 2025-2029
- Masyarakat Kalideres Harapkan Adanya Pembangunan Fasilitas Krematorium
- Benarkah Freeport Terlibat Perang Iran-Israel?
- Mantap! Tuna Olahan Papua Mendunia Berkat Ekspor Langsung dari Jayapura
- Bagaimana Politik Internasional ala Try Sutrisno?
JPNN.com




