Rencana Impor Minyak dari Rusia, Apa Potensi Risiko yang Mungkin Terjadi?
jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Energi Center of Reform on Economics (CORE), Muhammad Ishak Razak menilai ada kemungkinan risiko diplomatik dengan Blok G7.
Namun, Ishak menjelaskan tekanan diplomatik tersebut diperkirakan akan sedikit berkurang.
Hal ini karena adanya komitmen Indonesia dalam mengimpor minyak dari Amerika Serikat (AS) senilai USD 4,5 miliar serta pasokan LPG senilai USD 3,5 miliar.
"Sebagai bagian dari kesepakatan tarif dengan AS, sehingga kemungkinan AS akan cenderung menahan diri," kata Ishak kepada Jpnn.com, dikutip pada Selasa (5/5).
Hubungan dagang dengan AS tersebut dinilai menjadi faktor penyeimbang dalam posisi politik luar negeri Indonesia.
Selain faktor diplomatik, Ishak menyebut permasalahan lain yang menjadi risiko nyata yakni hambatan pada sistem pembayaran Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).
Sanksi internasional terhadap Rusia membuat jalur transaksi konvensional ini tidak dapat diakses.
Kondisi ini menuntut pemerintah untuk merumuskan skema transaksi keuangan yang berbeda guna menyelesaikan proses pembayaran impor.
Pengamat Energi Center of Reform on Economics (CORE), Muhammad Ishak Razak menilai ada kemungkinan risiko diplomatik dengan Blok G7.
- Ratusan Mahasiswa Indonesia Kuliah Gratis di Rusia, Program Studi Ini yang Paling Diminati
- Wadirut Pertamina Tekankan Urgensi Kolaborasi Lintas Bisnis untuk Perkuat Ketahanan Energi
- WNA Rusia Edarkan Narkotika di Bali, BNN Buru Jaringan yang Terlibat
- Bantah Rumor Barat di SPIEF 2026, Putin: Iran Mampu Jaga Stabilitas Sendiri
- Vladimir Putin Tegaskan Rusia tidak Memasok Senjata Apa Pun ke Iran
- Dunia Hari Ini: Ukraina Kirim Surat Kepada Rusia untuk Mengakhiri Perang
JPNN.com




