Resah dengan Kondisi Tanah Air, Akademisi Sampai Aktivis Bentuk Barisan Oposisi Indonesia

Resah dengan Kondisi Tanah Air, Akademisi Sampai Aktivis Bentuk Barisan Oposisi Indonesia
Ray Rangkuti tergabung di BOI. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Sejumlah akademisi, aktivis, hingga pegiat demokrasi membentuk organisasi yang disebut Barisan Oposisi Indonesia (BOI) di Jakarta, Jumat (13/2) kemarin.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara pembentukan BOI, yakni Guru Besar UI Sulistyowati Irianto, akademisi UNJ Ubedilah Badrun, ekonom Anthony Budiawan, dan peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti.

Turut juga hadir dalam acara pembentukan BOI ialah Direktur LIMA Ray Rangkuti, aktivis demokrasi STF Alif Iman, peneliti Arif Susanto, Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampouw, peneliti Formappi Lucius Karus, Seknas FITRA Badiul Hadi, aktivis lingkungan John Muhammad, hingga advokat A.W. Kamal.

Akademisi Universitas Moestopo Anthonius Danar, jurnalis Raras Tejo juga hadir langsung ke acara pembentukan BOI.

Sementara itu, hadir melalui daring saat pembentukan BOI, yakni Guru Besar Unpad Susi Dwi Harijanti, Guru Besar UGM Zainal Arifin Mukhtar, ahli hukum Feri Amsari, dan Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid.

Ubedilah Badrun atau akrab disapa Kang Ubed menyebut keresahan terhadap kondisi Indonesia yang membuat sejumlah tokoh membentuk BOI.

"Situasi Indonesia saat ini sesungguhnya berada di tepi jurang, praktik demokrasi makin rusak, korupsi merajalela, pelanggaran HAM terus terjadi, kondisi lingkungan rusak, hukum tidak tegak, kondisi fiskal alami krisis, PHK terus terjadi," kata dia melalui layanan pesan, Minggu (15/2).

Kang Ubed mengatakan kondisi Indonesia bakal makin terpuruk ke depan andai situasi tidak berubah dari sisi hukum, sosial, dan politik.

Sejumlah akademisi dan aktivis merasa resah dengan kondisi Indonesia, lalu membentuk organisasi BOI pada Jumat (13/2) kemarin.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News