Rintihan Hati Petani Tembakau, Harga Anjlok di Tengah Pandemi

Rintihan Hati Petani Tembakau, Harga Anjlok di Tengah Pandemi
Para petani tembakau berdoa bersama. Foto: source for JPNN

jpnn.com, TEMANGGUNG - Setelah puluhan tahun menjadi petani tembakau, baru kali ini Ahmad Nadhirin merasa sangat terpuruk. Jika harga normalnya per kilogram mencapai Rp 85 ribu, kini mereka hanya bisa menjual maksimal dengan harga Rp 40 ribu saja.

Setelah berbagai ikhtiar dilakukan, Minggu (19/9) Nadhirin bersama rekan-rekan petani di desanya bermunajat bersama Majelis Dzikir Al Tsawab agar harga tembakau kembali melambung.

Usia menjalankan salat isya, Nahdhirin bersama petani tembakau Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung duduk melingkar di antara tatanan tembakau.

Tidak ada celotehan-celotehan khas desa yang terlontar. Semua terdiam seolah-olah beban akibat anjloknya harga tembakau masih menggelayut di kepala mereka.

Sejenak mereka ingin melepas beban itu dengan mengikuti zikir dari Majelis Dzikir Al Tsawab. Majelis itu memang khusus mendoakan para petani dalam munajat edisi ke dua pada Minggu Pon (19/9).

Secara virtual, malam itu ada 65 titik Majelis Dzikir Al Tawab yang tersebar di Jawa dan NTB turut melantunkan doa.

Dawan mengatakan doa ini dilakukan tak lain dengan harapan kelancaran rejeki bagi petani tembakau di masa panen raya ini.

Harga tembakau yang saat ini turun, kata Dawan, sangat memukul para petani. Dia berharap perusahaan rokok membeli hasil panen raya petani tembakau dengan harga tinggi.

Para petani tembakau di Jateng berkumpul dan bermunajat bersama Majelis Dzikir Al Tsawab untuk mendoakan nasib hasil panen mereka bersama petani lainnya di Jawa dan NTB.