Rp 1 Triliun Setahun, Pakar: Tenor 80 Tahun Tidak Membuat Utang Whoosh Menjadi Murah
jpnn.com, JAKARTA - Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menekankan permasalahan pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) bukan sekadar perkara Rp 1 triliun per tahun.
Nur Hidayat menyadari nilai Rp 1 triliun per tahun relatif kecil jika dibandingkan dengan kemampuan fiskal negara.
Akan tetapi, dia menegaskan pertanyaannya bukan mengenai mampu atau tidak mampu, melainkan apakah negara memang harus membayar utang tersebut.
"Tenor 80 tahun tidak membuat utang menjadi murah," kata Nur Hidayat dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu (12/9).
Nur Hidayat menyatakan perpanjangan tenor pembiayaan utang Whoosh hanya menyebarkan beban keuangan kepada lebih banyak generasi.
Hal ini berarti generasi yang tidak pernah ikut menentukan proyek Whoosh berpotensi ikut menanggung konsekuensi keputusan investasi tersebut.
"Anak yang lahir bahkan dapat memasuki usia pensiun sebelum kewajiban tersebut selesai," ujarnya.
Nur Hidayat menilai pengalihan kewajiban kepada SMI atau INA yang dianggap bukan beban pemerintah karena tidak langsung dibayar melalui pos APBN merupakan hal yang problematik.
Ekonom menekankan tenor 80 tahun, dengan cicilan Rp 1 Triliun tidak membuat utang Whoosh menjadi murah.
- Epson Meluncurkan Printer SureColor V4000 yang Mendukung Bisnis Terus Berkembang
- Di Tengah Gejolak Perekonomian Pendapatan IOTF Tumbuh 16%
- Dari Bisnis ke Akademisi, Donny Pur Raih Gelar Professor of Practice di Malaysia
- BINUS University Gelar LBFest 2026, Fasilitasi 82 Brand Lokal Mahasiswa & Alumni
- Raih Project of The Year Indonesia 2026, PIK2 Terus Perkuat Ekosistem Bisnis & MICE
- Dukung Industri F&B, Indomilk Hadirkan Dairy Terintegrasi Pebisnis Kopi & Bakery
JPNN.com




