JPNN.com

Sama-sama Rugi jika Terus Memburuk

Minggu, 17 Juli 2011 – 22:15 WIB Sama-sama Rugi jika Terus Memburuk - JPNN.com
ISLAMABAD - Tidak bisa dipungkiri, bagi AS, Pakistan adalah salah satu sekutu terpenting. Secara geografis, negara Asia Selatan tersebut pernah dijadikan pasukan AS sebagai pangkalan strategis dalam operasi militer di Afghanistan dan Iraq.

Dengan memburuknya hubungan di antara kedua negara, AS bisa kehilangan benteng strategis dalam perang melawan terorisme. Apalagi, Islamabad telah meminta Washington supaya mengurangi keberadaan pasukannya di Pakistan.

Di mata AS, Pakistan ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, peran negara tersebut dinilai sangat penting dalam perang melawan terorisme. Di pihak lainnya, AS justru melihat ancaman besar dari sekutunya itu.

"Kami belum pernah melihat ancaman teroris dari Afghanistan dalam 7-8 tahun terakhir," ujar seorang pejabat senior AS. "Ancaman lebih banyak justru datang dari Pakistan selama enam tahun terakhir dan bahkan lebih," tambahnya.

Salah satu percobaan serangan paling mematikan yang menarget wilayah AS datang dari seorang warga Pakistan. Faisal Shahzad, pria AS keturunan Pakistan, mencoba meledakkan bom mobil di alun-alun New York tahun lalu. Dia diduga pernah pergi ke Pakistan dan merencanakan serangannya tersebut dengan Taliban.

Sejumlah analis melihat, jika hubungan kedua negara terus memburuk, AS harus mencari tempat lain yang bisa dijadikan kendali operasinya. Salah satu alternatif yang paling memungkinkan adalah  Afghanistan. Lokasinya strategis karena berbatasan langsung dengan Pakistan.

Sejak Pakistan melarang tentara Amerika berada di dalam wilayahnya, Washington hanya mengandalkan serangan roket dan rudal dari pesawat tanpa awak untuk menarget militan Taliban dan Al Qaeda yang bersembunyi di kawasan pegunungan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan.

Jika pemindahan lokasi kendali operasi memang harus dilakukan AS, hal itu jelas bakal menelan dana yang besar. Apalagi, AS mulai menarik pasukannya dari Afghanistan bulan ini.

Meski demikian, Pakistan juga bakal merugi jika hubungan bilateralnya dengan AS memburuk. Tidak mustahil AS akan menghapuskan semua bantuan militer dan ekonominya secara sekaligus.

Dampak jangka pendek, dampak memburuknya hubungan di antara kedua negara akan lebih bersifat politis daripada ekonomi. Meski begitu, nantinya perekonomian Pakistan juga akan sangat terpukul.  Saat ini Pakistan sedang melakukan negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) terkait program utang senilai USD 11 miliar.

"Pasti akan berpengaruh. Situasi terakhir akan mengirimkan sinyal negatif bahwa hubungan kedua negara belum akan membaik saat ini," tutur analis Asif Qureshi yang juga direktur Invisor Securitis Ltd.

Dukungan AS sangat penting untuk mengamankan perjanjian yang ditandatangani oleh Pakistan dan IMF pada 2008 tersebut. Pengalaman juga telah membuktikan. Pada Agustus 2010, IMF menyetop bantuan bagi Pakistan karena pelaksanaan reformasi fiskal negara itu dinilai tidak konsisten. (RTR/cak/dwi)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...