Satiap Wihara Dijaga 2 Polisi

Satiap Wihara Dijaga 2 Polisi
Warga keturunan Tionghoa saat sembahyang di Wihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Senin (8/2). Sembahyang tahun baru Imlek 2567 itu sebagai ungkapan syukur atas segala rejeki dan keselamatan dari Tuhan serta untuk pengharapan kehidupan lebih baik di tahun monyet mendatang. Foto: Ricardo/JPNN.com Ilustrasi by: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, KOTA BATU - Setiap wihara di Kota Batu, Jatim, dijaga minimal dua petugas kepolisian untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan terkait aksi solidaritas terhadap etnis Rohingya di Myanmar.

Sejak kemarin (5/9), ada empat wihara yang sudah dalam penjagaan ketat polisi dari Polres Batu.

Wihara menjadi fokus penjagaan karena Myanmar diidentikkan dengan mayoritas umat Buddha.

Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto menyatakan, saat ini pihaknya melakukan pengamanan model tertutup di setiap wihara dengan melibatkan anggota polisi yang tidak berseragam.

”Agar tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegas Budi Hermanto kemarin.

Dia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi atau termakan isu terkait pembantaian yang ada di Myanmar. Apalagi jika ada isu-isu yang belum tentu kebenarannya.

Dia juga meminta agar tidak ada yang melakukan demonstrasi anarkis menyikapi konflik di negara yang dulu bernama Burma itu. ”Tidak ada yang boleh melakukan aksi anarkis di sini,” tegasnya.

Antisipasi lain Polres Batu dengan mengundang beragam tokoh dari lintas agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB).

Setiap Wihara di Kota Batu dijaga minimal dua polisi, sebagai antisipasi aksi kekerasan imbas tragedi kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News