Rabu, 24 Juli 2019 – 07:43 WIB

SBY Instruksikan Antar Tetangga Saling Mengawasi

Senin, 27 Juni 2011 – 06:24 WIB
SBY Instruksikan Antar Tetangga Saling Mengawasi - JPNN.COM

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai langkah pencegahan dan pemberantasan kejahatan narkoba masih belum terlalu luar biasa atau business as usual. Menurut dia, Badan Narkotika Nasional (BNN) harus lebih aktif, berinisiatif, dan bekerja lebih keras dengan didukung komponen bangsa yang lain.

"kita harus lebih agresif dan ambisus memberantas kejahatan narkoba ini," kata SBY dalam sambutan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Silang Monas, Jakarta Pusat, Minggu (26/6). Dalam acara yang dimulai tepat pukul 09.00, itu, turut hadir ibu negara Ani Yudhoyono, Wapres Boediono berserta ibu Herawati Boediono, Menkominfo Tifatul Sembiring, Kepala BNN Gories Mere, dan Wagub DKI Jakarta Prijanto.

Presiden menegaskan kejahatan dan penyalahgunaan narkoba masih menjadi ancaman serius, baik di tingkat dunia, maupun di dalam negeri. Karena itu, dia mengeluarkan enam point instruksi kepada jajaran pemerintah, termasuk pemerintahan daerah, untuk menyukseskan gerakan nasional pencegahan dan pemberantasan kejahatan narkoba.  "Kepada BNN, saya instruksikan untuk berada di depan," kata SBY, sambil menatap lurus ke arah Gories Mere.

SBY meminta agar jajarannya meningkatkan intensitas dan ekstensitas pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan, serta peredaran gelap narkoba di seluruh tanah air. Kerjasama regional dan internasional, lanjut dia, juga harus ditingkatkan agar lebih efektif. "Agar tidak semudah itu, pengaruh sindikat narkoba internasional mengobok -obok negeri kita," tuturnya.

Para pendidik, orang tua, dan pemuka agama juga mendapat "jatah" instruksi dari SBY. Presiden menginstruksikan mereka untuk lebih aktif dalam membimbing, menyadarkan, dan mengawasi masyarakat. "Utamanya generasi muda agar tidak tersesat ke jalan yang salah," kata Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat, itu.

Selanjutnya, aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, diharapkan bisa lebih aktif untuk membongkar dan mengadili para pelaku kejahatan narkoba. "Berikan saksi hukuman yang keras, namun tetap adil bagi pelaku -pelaku kejahatan itu," katanya.

Masyarakat mulai level terbawah juga diminta SBY untuk memiliki kepedulian yang tinggi. Menurut dia, harus tumbuh neighborhood watch.  Artinya, mulai RT/RW, kampung, desa, dan kelurahan ikut mencegah potensi munculnya benih dan sarang kejahatan narkoba dilingkungannya. "Tidak boleh terjadi ada sebuah rumah yang dijadikan (tempat, Red) untuk memproduksi obat -obatan (terlarang) itu, sementara tetangganya tidak tahu," tegasnya.

Sebagai instruksi terakhir, SBY mengajak dunia usaha yang memiliki kemampuan untuk ikut meningkatkan kapasitas pusat -pusat rehabilitasi korban narkoba. "Meskipun kehilangan masa lalu, mereka tidak ingin kehilangan masa depannya," kata Presiden.

Usai berpidato, SBY secara simbolis menyerahkan sebuah buku kepada Kepala BNN Gories Mere. Judul buku itu sangat panjang, yakni 15 kata, sehingga perlu disingkat menjadi P4GN. Kepanjangannya adalah Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekusor Narkotika.

Acara selanjutnya dimeriahkan dengan pagelaran seni budaya kolosal berjudul Indonesia Menuju Negeri Bebas Narkoba yang melibatkan 3.800 penari dan 1.000 pelajar. Monas dan lapangan di sekitarnya selama 30 menit berubah layaknya "panggung" teater.

Gories Mere menuturkan hasil survei BNN dengan Pusat Penelitian Kesehatan UI pada 2008 menemukan prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia sebesar 1,99 persen dari penduduk atau sekitar 3,6 juta orang. Rentangnya mulai berusia 10 sampai 59 tahun.

Prevalensi itu, lanjut Gories, diproyeksikan naik pada 2010 menjadi 2,21 persen atau 3,8 juta orang. Angka ini berpotensi terus membengkak menjadi 2,8 persen atau 5,1 juta orang pada 2015. "Ini pasti akan terjadi apabila tidak dilakukan upaya penanggulangan yang komprehensif," ingat perwira tinggi polisi berpangkat Komjen, itu.

Dia lantas menjelaskan bahwa penyalahguna narkoba yang menjalani proses hukum pada umumnya adalah pekerja swasta, wiraswasta, dan buruh yang berusia di atas 30 tahun. Dari mereka itu, tingkat pendidikan terbanyak SLTA. "Ini harus menjadi perhatian semua pihak bahwa ancaman terbesar ada pada kalangan siswa atau pelajar SLTA," katanya.

Dari 3,8 juta penyalahguna narkoba pada 2010, Gories mengatakan, baru sebagian yang menjalani perawatan. Masih banyak yang belum memperoleh pelayanan rehabilitasi medis dan sosial.  "Mereka ini rawan menjadi pasar terbuka jaringan sindikat peredaran gelap narkoba," cetus Gories.

Apalagi, diakui dia, jaringan peredaran gelap narkoba yang beroperasi di Indonesia semakin meningkat. Mulai jaringan sindikat warga negara Iran, Nigeria, India, Tiongkok, dan Malaysia. Peningkatan ini juga mencakup warga negara Indonesia. "Bahkan, beberapa sedang menjalani proses hukum di luar negeri, karena berperan sebagai kurir pembawa narkoba," terangnya.

Untuk melawan semua itu, pemerintah terus memasifkan kampanye dan operasional penegakan hukum untuk menghancurkan jaringan sindikat narkoba. Selain itu, Gories menyebut pada tahun ini telah dibangun dua tempat rehabilitasi baru. Keduanya berada di Makassar, Sulawesi Selatan dan Samarinda, Kalimantan Timur. "Tahun depan akan dibangun di Pagar Alam, Sumatera Selatan," ujarnya. (pri)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar