Senin, 27 Mei 2019 – 10:15 WIB

Silaut dan Sejarah Gempa Pantai Barat

Sabtu, 21 Juli 2018 – 12:26 WIB
Silaut dan Sejarah Gempa Pantai Barat - JPNN.COM

Menurut Yose, yang baru-baru ini bertandang ke pondokan saya di Batang Arau, peristiwa gempa 1833 sekilas bisa dilihat dari catatan Ridder van de Militaire Willems Orde Kelas IV Letnan I Infanteri J.C Boelhouwer. Dia bertugas di Sumatera Barat dari tahun 1831 hingga 1834. 

“Dalam memoar dengan judul Kenang-Kenangan Di Sumatera Barat selama tahun-tahun 1831-1834, dia menceritakan, ketika bertamu ke rumah seorang pejabat Belanda pada malam di tahun 1833, terasalah guncangan gempa.  Dia melihat seorang nona (gadis) yang duduk di atas bangku hampir saja meluncur sebelum dipegang oleh beberapa orang pemuda,” paparnya.

Akibat gempa itu, di beberapa tempat, tanah terbelah selebar dua kaki atau lebih. Laut bergolak dahsyat. Semua perahu yang sedang tertambat di pelabuhan Pariaman dan Padang hanyut jauh. Terpencar. 

Beberapa hari kemudian, Boelhouwer mencatat masih merasakan guncangan-guncangan gempa dengan skala kecil. 

Di Padang sejumlah rumah batu, termasuk gereja, rusak parah. Gereja malah tak bisa dipakai lagi. 

Dalam perjalanan ke Padang, Boelhouwer juga menemukan beberapa parit perlindungan yang rusak berat di pantai. Di Bengkulu, serdadu Belanda penumpas Kaum Padri ini mendengar seluruh dermaga hancur, kecuali kantor bea cukai. 

“Gempa dan tsunami yang melanda Pariaman hingga Bengkulu tahun di tahun 1833 ini, sering dijadikan sebagai dalih bahwa gempa dan tsunami di pantai barat Sumatera adalah siklus 200 tahun, dengan melihat terjadinya bencana yang sama di Aceh tahun 2004,” papar Yose.

Nah, dalam lawatan ke kawasan Pesisir Selatan—masih lintangan garis Pantai Barat Sumatara—JPNN.com beroleh kisah tutur dari tetua adat. Tentang peristiwa gempa dan tsunami dalam langgam senandung ala pantun. 

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar