Soroti Fenomena 'Mas Bahlil Ganteng', Prof Henry Indraguna Sebut Strategi Skincare Politik Terbaru
jpnn.com, JAKARTA - Fenomena lagu satire "MBG (Mas Bahlil Ganteng)" di ruang digital menandai pergeseran besar dalam komunikasi politik modern.
Lagu ini semula lahir sebagai ekspresi kreatif netizen. Namun sekarang bertransformasi menjadi ruang diskursus publik yang masif.
Transformasi ini sepenuhnya digerakkan oleh politik algoritma yang bekerja di balik layar platform media sosial.
Lagu tersebut awalnya diciptakan warganet untuk mengkritik dinamika sosial-politik secara jenaka. Namun, makna sebuah konten digital tidak lagi berada di bawah kendali penuh penciptanya.
Di era algoritma, sebuah karya satire mengalami komodifikasi atensi yang sangat cepat. Netizen, tim sukses, hingga figur politik mereproduksi konten tersebut untuk berbagai kepentingan.
Menurut Tenaga Ahli DPR RI Prof. Henry Indraguna, sebagian memanfaatkan algoritma itu sebagai alat promosi citra. Sedangkan yang lain menggunakannya sebagai simbol identitas kelompok.
"Di era digital saat ini, media sosial bukan lagi sekadar saluran pasif untuk menyampaikan pesan politik. Sistem algoritma secara aktif membentuk cara masyarakat mengonsumsi, memaknai, dan menyebarkan narasi," ujar Prof Henry Minggu (1/6/2026).
Belakangan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga penasaran dengan pencipta lagu MBG ini. Dia bahkan berkeinginan sekali mengundang makan bersama dan berdiskusi dengan sang kreator lagu tersebut.
Prof. Henry Indraguna merespons soal fenomena viral Mas Bahlil Ganteng (MBG) yang dipersepsikan sebagai skincare politik terbaru
- Bahlil Bilang Harga Pertamax Bakal Turun, Catat!
- Bahlil: Musda Golkar Sulsel Melahirkan 3 Keputusan Besar
- KPK Ungkap Mahalnya Ongkos Politik Picu Korupsi Kepala Daerah
- Bahlil Buka–bukaan soal LNG Masela, Menggiurkan
- Subsidi Harga BBM Kapal 30–200 GT untuk Nelayan Pakai Dana BPDP
- Sekjen ASEAN Serukan Indo-Pasifik yang Terbuka dan Inklusif di Tengah Dinamika Geopolitik
JPNN.com




