Studi Ungkap Rahasia Selandia Baru Tekan Angka Perokok, Ada Peran Vape
jpnn.com, JAKARTA - Prevalensi merokok di Selandia Baru turun jauh lebih cepat sejak 2018.
Studi yang diterbitkan The Lancet mengaitkan percepatan tersebut dengan kombinasi kebijakan pengendalian tembakau dan pendekatan tobacco harm reduction (THR).
Studi berjudul New Zealand's accelerating smoking decline: Lessons for tobacco harm reduction itu ditulis Profesor Emeritus Universitas Auckland Robert Beaglehole dan Ruth Bonita serta pakar kesehatan independen Ben Youdan.
Para peneliti menemukan laju penurunan prevalensi merokok orang dewasa di Selandia Baru meningkat signifikan.
Sebelum 2018, prevalensi merokok turun sekitar 3,5 persen per tahun.
Namun, pada periode 2018-2023, laju penurunannya meningkat menjadi sekitar 17,9 persen per tahun.
Menurut para peneliti, salah satu titik balik terjadi pada 2019.
Saat itu, penggunaan rokok elektronik atau vape mulai diadopsi lebih luas.
Prevalensi merokok di Selandia Baru turun jauh lebih cepat sejak 2018 dikaitkan dengan kombinasi kebijakan pengendalian tembakau dan pendekatan THR
- Sahroni Setuju Usul BNN soal Larangan Vape Lewat Perpres
- Studi Terbaru Sebut Ozempic Berpotensi Bantu Pasien dengan Gangguan Mental Serius
- Studi Jepang Soroti Perubahan Kualitas Udara Dipengaruhi Produk Tembakau yang Dipanaskan
- Menjabat Kepala Lingkungan, Bu FAP Malah Berbuat Dosa
- Tanggapi Rencana Penyeragaman Kemasan Rokok dan Vape, Ekonom: Produk Ilegal Makin Sulit Dibendung
- Ini Upaya Bea Cukai Berantas Peredaran BKC Ilegal, Sasar Toko Penjual Rokok dan Vape
JPNN.com




