Tarim Tanah

Oleh: Dahlan Iskan

Tarim Tanah
Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

Saya sempat minta izin mencuil rotinya dan merasakannya. Ia menawarkan untuk saya ambil semua.

Baca Juga:

"Saya hanya ingin merasakan. Siapa tahu lain kali ingin pesan ini," kata saya.

Ternyata itu tadi Alwi Assegaf, si bintang film Kiansantang.

Tarim Tanah

Kami pun berlalu. Ia pamit dulu meninggalkan warung. Saya lihat ia naik sepeda motor gaya lama, model mirip CB-125 tetapi mereknya tidak saya kenal. Bukan Honda.

Di Tarim motor model lama seperti itu yang menguasai pasar. Tidak ada yang kinclong. Semuanya berselimut debu.

Saya juga segera masuk mobil berlapis debu. Tidak akan ada bisnis cuci mobil di Tarim. Debu dianggap bagian dari kehidupan.

Di hari kedua di Tarim ini pun saya berpikir: entah sudah berapa banyak debu di tenggorokan dan paru-paru saya.

Saya tiba di Tarim hari Jumat. Pesawat Yemeni jurusan Jeddah-Aden itu ternyata tidak mendarat di kota Aden. Mendaratnya di kota Saiyun.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News