JPNN.com

Teka-Teki Koalisi Capres dan Cawapres

Sabtu, 14 Juli 2018 – 22:55 WIB Teka-Teki Koalisi Capres dan Cawapres - JPNN.com

Dalam upaya membentuk poros ketiga, SBY sudah memberi sinyal bahwa AHY sebagai kader potensial dari Demokrat bukan lah harga mati sebagai cawapres di koalisi poros ketiga. Demokrat harus mampu mengakomodir PAN dan PKB.

Kita mahfum mengapa PKB, PKS, PAN, Golkar dan Demokrat begitu ngotot mengusung kadernya sebagai capres maupun cawapres? Wajar karena logika partai dalam upaya menyelamatkan elektabilitas partai. Memang sangat berbeda dengan PPP, Hanura dan Nasdem, menyerahkan leher partai ke pak Jokowi untuk memilih cawapresnya, tidak harus dari kader ketua umum partai tersebut.

Pemilu legislatif dan pilpres serentak, dalam terminologi ilmu politik dikenal efek ekor jas (cotail effect) salah satu cara mendongkrak elektabilitas partai adalah dengan mengusung figur dari kader partai tersebut.

Golkar punya potensial banting stir dari koalisi Jokowi. Karena sebagian suara grasroot dan elite masih gigih memperjuangkan ketua umum Golkar, Airlangga Hartato sebagai cawapres.
Jokowi adalah kader PDIP, maka yang langsung merasakan limpahan elektoral dari figur Jokowi sebagai capres adalah PDIP, dan hampir tak punya efek dongkrak terhadap elektabilitas partai Golkar.

Oleh karena itu, poros ketiga masih punya harapan terbentuk apabila nanti PKB, PAN, Demokrat tidak bergabung ke kutub Jokowi maupun Prabowo. Kalau soliditas dikutub Jokowi dan Prabowo tak terjaga. Maka ada potensi bola muntah membentuk poros ketiga.

Zona Waiting Game

Kita tidak kaget membaca fenomena paket capres dan cawapres sengaja dibuat menggantung, baik dari poros koalisi Jokowi maupun Prabowo belum ada yang berani mengumumkan paket capres dan cawapresnya.

Bermain di zona injure time atau last minute, apakah ini bagian dari taktik politik? Waiting game ini sedang dimainkan masing-masing poros parpol koalisi. Mereka tentu ngak mau layu sebelum berkembang.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...