The Little Prince & Mural BTS, Strategi Komunikasi Gamcheon Culture Village Menembus Batas Budaya
Yollanda Vusvita Sari, M.Pd, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta
jpnn.com - Sejarah Perkembangan Gamcheon Village
Di lereng bukit barat Busan, Gamcheon Culture Village berdiri sebagai medium komunikasi budaya yang hidup. Dijuluki Machu Picchu-nya Korea hingga Santorini-nya Korea, desa ini membuktikan seni mampu mentransformasi luka masa lalu menjadi pemandangan yang menenangkan. Sejarah Gamcheon dimulai dengan kepedihan.
Pada awal 1900-an, kawasan ini dihuni komunitas religius Taegeukdo, cabang Jeungsanisme. Penganutnya percaya pada keseimbangan yin-yang, dengan simbol Taegeuk biru-merah yang kini menghiasi bendera Korea Selatan.
Kawasan ini semula dikenal sebagai "Taegeukdo Village" karena dominasi komunitas tersebut. Ketika Perang Korea (1950–1953) berkecamuk, para pengungsi datang ke Gamcheon yang relatif damai. Pada 1955, sekitar 800 keluarga Taegeukdo ditempatkan di perbukitan ini.
Berbeda dengan desa pengungsi lainnya, Gamcheon memiliki keunikan tata ruang. Kim Kye-young, perwakilan Taegeukdo, menjelaskan, “Dengan membangun rumah bertingkat mengikuti lereng bukit, tidak ada rumah yang menghalangi rumah di belakangnya. Filosofi harmoni ini menjadi cetak biru estetika desa, namun kemiskinan membayangi. Seorang penduduk lama mencatat, “Pada tahun 1970-an hanya ada rumah kayu. Akhir 1980-an dan awal 1990-an, keluarga-keluarga mulai membangun rumah bertingkat dua.”
Titik balik terjadi pada 2009 ketika Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan melaksanakan proyek "Gamcheon Village Art Project" yang dikenal sebagai "Dreaming of Busan's Machu Picchu", sebuah renovasi seni publik partisipatoris yang melibatkan mahasiswa seni, seniman, dan penduduk. Pada 2012, desa ini dinobatkan sebagai "Korea's Most Artistic Village" oleh Kementerian Budaya, yang memicu investasi lebih lanjut.
Dalam perspektif Media Ecology Marshall McLuhan (1964), Gamcheon sebelum 2009 adalah “medium dingin” yang sarat luka dan kemiskinan. Seni publik bertindak sebagai pemanas ulang yang mengubah ruang fisik menjadi ruang pengalaman aktif dan partisipatoris.
Keberhasilan tidak hanya pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pendirian ruang ritel, museum, serta puluhan instalasi seni seperti patung burung, instalasi ala Murakami, patung Pangeran Kecil dan lukisan kawanan ikan sebagai penunjuk arah.
Di lereng bukit barat Busan, Gamcheon Culture Village berdiri sebagai medium komunikasi budaya yang hidup.
- Keraton Yogyakarta & Trip.com Gencarkan Promosi Budaya-Pariwisata di Pasar Global
- An Seyoung Butuh Dukungan Publik Istora untuk Pertahankan Gelar Juara Indonesia Open
- Telkomsel Operasikan 361 BTS Berbasis Solar Panel dan Mikrohidro Hingga 2025
- Gandeng Kapal Api, ZUS Coffee Resmi Hadir di Jakarta
- Sambut HUT Ke-13, BTS Hadirkan Vinyl Edisi Terbatas, Ada Dua Lagu Bonus
- 221 PNS DPD RI Dilantik, Sekjen: Hentikan Budaya Kerja Silo
JPNN.com




