Tidak Mati

Oleh Dahlan Iskan

Tidak Mati
Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

Di panggung itu presiden seperti seorang penyuluh dapur MBG. Yang hadir pun terlihat antusias. Kepentingan dapur MBG adalah agar anggaran satu porsi yang ditentukan pemerintah jangan banyak berkurang di proses pengurusannya.

Menurut ilmu gizi, untuk anak SD, kebutuhan proteinnya sekitar 35-50 gram sehari. Berarti satu ayam dipotong 10 sampai 12 masih cukup. Asal, ada tambahan protein dari telur, tempe atau tahu. Dan susu.

Rasanya enam bulan ke depan fokus pimpinan baru BGN ke soal telur yang jangan didadar dan ayam yang jangan jadi 14 potong.

Akan tetapi tahun depan harus lebih maju lagi: bagaimana MBG menjadi pendorong bergeraknya ekonomi di desa. Agar biaya yang besar dari APBN itu tidak habis begitu saja.

Memang sampai sekarang belum ada juklaknya: siapa penanggung jawab pengaitan MBG dengan perputaran ekonomi di desa. Kalau itu diserahkan ke BGN terlalu jauh. Kalau diserahkan ke menteri pertanian terlalu detail. Diserahkan ke bupati setempat? Apakah ada bupati yang mau berpikir teknokratis dan manajerial seperti itu?

Sebenarnya ideal sekali ada koordinasi di satu kabupaten: berapa telur dan ayam dibutuhkan oleh seluruh dapur MBG di satu kabupaten itu. Lalu perlu sayur apa saja dan berapa banyak. Apakah sudah ada peternak telur dan daging ayam di kabupaten itu. Bagaimana pula mengatur distribusinya.

Ini pekerjaan mulia, tetapi njelimet. Pasti bisa. Asal mau.

MBG terlihat akan jalan terus. Anggaran yang dibelanjakan sudah terlalu besar. Ekosistem sudah mulai terbentuk meski masih di tahap awalnya. Perbaikan terus dilakukan.

MODEL komunikasi Presiden Prabowo Subianto terlihat baru: sehari setelah mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, sebuah acara besar diadakan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News