Timur Tengah Memanas, Waspada IHSG Ambrol
jpnn.com, JAKARTA - Analis pasar modal Hendra Wardana mengingatkan risiko Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan imbas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut Hendra, konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan hanya sekadar isu politik, tetapi sudah masuk ke ranah risiko ekonomi di tingkat global.
"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven," ujar Hendra dikutip Senin (2/3).
Hendra mengaku eskalasi konflik maka akan mengganggu arus kapal tanker di kawasan selat Hormuz, sehingga menyebabkan harga minyak global melonjak.
"Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara," ujar Hendra.
Bagi pasar modal Indonesia, dia menjelaskan tekanan bisa datang dari dua sisi, diantaranya pertama, potensi capital outflow (arus dana modal) karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market.
Kemudian, kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi di tingkat global.
Dia mengatakan jika harga minyak bertahan di level tinggi dapat menyebabkan beban biaya produksi meningkat, dan margin perusahaan tercatat (emiten) dapat tertekan.
Analis pasar modal Hendra Wardana mengingatkan risiko Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan imbas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
- Tak Hanya IHSG, Rupiah Juga Ambyar 94 Poin, USD Tembus Rp 17.856
- IHSG Bergerak Melemah, Fokus Investor Tertuju pada RDG BI
- Menkeu Purbaya Raih Dukungan Tiongkok untuk Panda Bond, AIIB Siapkan USD 17 Miliar
- Bela Program Prabowo, Fadli Zon Yakini MBG Tak Mengganggu Rupiah & IHSG
- Investor Wait and See, IHSG Tetap Hijau Pada Rabu Pagi
- Nilai Tukar Rupiah Pagi Hari Ini Melemah, IHSG Menguat
JPNN.com




