Upah yang Belum Dibayar, Penipuan Pajak, dan Uang yang Raib: Di Balik Industri Penyedia Tenaga Kerja di Australia
itu Dua tahun setelah mereka bekerja berjam-jam memetik sayuran salad yang akan disajikan di meja makan Natal warga Australia, Tommy dan Susilo masih belum dibayar.
"Kita susah-susah bekerja, panas-panas saat siang terik," kata Tommy asal Indonesia, yang namanya telah diubah untuk melindungi privasinya, kepada ABC.
Ia mengatakan bahwa ia menjadi "sakit hati dan capek."
"Lama bekerja dan enggak dibayar… sangat berat, sangat sangat sedih, tetapi apa yang bisa saya lakukan?"
Rekannya yang lain asal Madiun, Jawa Timur, Susilo, mengatakan bahwa ia telah bekerja lebih dari 100 jam dalam masa-masa sibuk menjelang Natal 2023.
Ia mengatakan bahwa ia masih belum dibayar dan kenangan itu menyakitkan.
"Hujan, panas, saya juga di sini ada keluarga, punya anak kecil dan istri, di rumah ada orangtua, ya pastinya sakit hati."
Tommy dan Susilo termasuk di antara kelompok yang terdiri dari setidaknya 20 pekerja yang, menurut dokumen yang diajukan oleh likuidator dalam proses pengadilan, berhak menerima total lebih dari A$260.000 (sekitar Rp2,6 miliar).
Menurut dokumen pengadilan, setidaknya 20 pekerja berhak menerima upah untuk pekerjaan yang mereka lakukan pada akhir tahun 2023 di Peternakan Corrigan di Melbourne tenggara, yang menurut para ahli merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yang menye
- Komunitas Muslim Australia Marah Atas Tindakan Polisi dalam Insiden Salat Berjemaah di Sydney
- Dunia Hari Ini: Penembak Masjid di Christchurch Minta Pengakuan Bersalahnya Dibatalkan
- Dunia Hari Ini: Presiden Israel ke Australia, Unjuk Rasa Besar Bakal Pecah di Mana-Mana
- Polda Sumsel Tangkap 2 Pencuri Mobil Dengan Modus Pelanggan Fiktif
- Dunia Hari Ini: Indonesia - Australia Tandatangani Perjanjian Keamanan
- Perdagangan RI-Australia Makin Cepat dan Aman dengan Pemberlakuan MRA AEO Mulai 2026
JPNN.com




