USD Menyentuh Angka Rp 17.500, Ekonom Ungkap Fakta soal Kurs Rupiah
jpnn.com, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per USD pada Selasa (12/5).
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan dolar Amerika Serikat (USD) dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
“Tekanan tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset-aset berdenominasi rupiah,” jelas Josua.
Josua menjelaskan dari sisi global, kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
Sebab, Indonesia termasuk negara yang memiliki ketergantungan impor energi cukup tinggi sehingga lebih rentan terhadap lonjakan harga minyak dan pergerakan modal asing.
Menurut Josua, dua faktor tersebut efeknya terhadap ekonomi RI relatif cenderung lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain.
“Sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa.
Dia melanjutkan kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran pasar karena berpotensi menambah beban impor dan menekan stabilitas fiskal nasional.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan dolar Amerika Serikat (USD) dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
- Alasan Sebenarnya BI-Rate Mendadak Naik, Perry Warjiyo Buka-bukaan
- Purbaya: Kebijakan Fiskal Fokus Pada 8 Program Kerja
- Ekonom Sebut Meredanya Isu Reshuffle Kabinet Punya Efek Baik untuk Rupiah & IHSG
- Rupiah Makin Perkasa 130 Poin, Jurus BI Rate Berhasil?
- Chatib Basri Datangi Istana untuk Bertemu Prabowo, Ada Luhut Juga, Bahas Apa?
- BREAKING NEWS: BI Rate Naik Jadi 5,50%
JPNN.com




