Wartawan Senior Berbagi Cerita Soal Tindakan Represi Orba di Ruang Redaksi
"Wartawan yang belum mematikan komputer akan ditegur, ini jangan ditulis, ya, ini judulnya jangan seperti ini," kenang Willy.
Sementara itu, mantan jurnalis koran militer Berita Yudha, Widiarsi Agustina turut membagikan pengalaman bekerja di bawah ekosistem pers tentara yang saat itu menjadi alat kekuasaan.
Widiarsi menceritakan bagaimana ketatnya pengawasan intelijen di sekitar Mimbar Demokrasi di halaman DPP PDI menjelang Kudatuli.
Dia menyebut intelijen menyamar di berbagai sudut, mulai dari dekat kotak sumbangan hingga dapur redaksi untuk memantau pergerakan informasi.
Widiarsi mengungkap rezim Orba memang aktif mendikte diksi pemberitaan agar nama "Soekarno" tidak muncul dalam media.
"Megawati itu dilarang menggunakan kata Soekarnoisasi, eh Soekarno. Waktu itu kami paham belakangan karena memang ada de Soekarnoisasi, jadi semua nama Megawati itu harus pakai nama Megawati Taufiq Kiemas," kata Widiarsi.
Selain diksi, katanya, pihak militer secara terperinci menghitung porsi pemberitaan mengenai PDI di media cetak nasional.
Widiarsi mengatakan pihak militer bakal menelepon redaksi jika jumlah kolom berita atau penayangan gambar di televisi banyak ke PDI.
Wartawan senior menyebut bentuk represi era Orba terhadap media sampai ke level penulisan biar tak muncul nama Soekarno dalam naskah.
- Megawati Ungkit Perlakuan Soeharto terhadap Bung Karno, Ada Kepedihan
- URI URI
- Versi Hasto, Kekerasan Atas Nama Negara Akibat Sejarah dan Pancasila yang Dilupakan
- Go Prabu Nilai Prabowo Orde Baru Jilid II
- Turun ke Jalan, Mahasiswa Bandung Raya Sebut Ada Gejala Kembalinya Orde Baru
- Ada Isu Merger NasDem-Gerindra, Anak Buah Paloh Singgung Praktik Politik Orba
JPNN.com




