Wartawan Senior Berbagi Cerita Soal Tindakan Represi Orba di Ruang Redaksi
"Lama-lama tentara itu tugasnya menghitung. Menghitung jumlah berita di Media Indonesia, di Kompas. Kompas itu kalau berita sambungannya di belakang lebih dari empat kolom saja, mereka sudah menegur," jelasnya.
Sejarawan Bonnie Triyana menilai Peristiwa Kudatuli memegang peranan penting dalam membuka jalan mobilitas politik vertikal bagi masyarakat pasca-Pemilu 1999.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu milestone penting bersamaan dengan pembredelan media dan pemberangusan aktivis menjelang reformasi.
Bonnie membandingkan pola represi media era Orde Baru dan masa kini.
Jika dahulu pemerintah memakai cara vulgar seperti pembredelan, polanya bergeser menjadi lebih halus.
Dis menekankan pentingnya mengingat kembali peristiwa sejarah seperti Kudatuli agar pola-pola represi serupa tidak terulang di masa kini, serta untuk menjaga agar kebebasan pers dan independensi jurnalisme tetap terawat.
"Kalau dulu pemerintah bisa langsung bredel. Sekarang polanya lain lagi, ditelepon, atau aliran ekonominya ditutup, iklan ditutup, atau diteror yang lebih vulgar lagi seperti dikirimi kepala babi atau mobilnya dilempari," kata anggota DPR RI itu. (ast/jpnn)
Wartawan senior menyebut bentuk represi era Orba terhadap media sampai ke level penulisan biar tak muncul nama Soekarno dalam naskah.
Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Aristo Setiawan
- Megawati Ungkit Perlakuan Soeharto terhadap Bung Karno, Ada Kepedihan
- URI URI
- Versi Hasto, Kekerasan Atas Nama Negara Akibat Sejarah dan Pancasila yang Dilupakan
- Go Prabu Nilai Prabowo Orde Baru Jilid II
- Turun ke Jalan, Mahasiswa Bandung Raya Sebut Ada Gejala Kembalinya Orde Baru
- Ada Isu Merger NasDem-Gerindra, Anak Buah Paloh Singgung Praktik Politik Orba
JPNN.com




