Waste to Fuel, Olah Sampah Jadi RDF Dinilai Lebih Efisien
jpnn.com, JAKARTA - CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak memperkenalkan konsep waste-to-fuel yang mengubah sampah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF).
Menurutnya, teknologi ini diklaim memiliki keunggulan kompetitif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proyek waste-to-energy.
Poltak menyebutkan model pengolahan miliknya jauh lebih efisien dari sisi nilai investasi dan energi yang dihasilkan.
"Jauh lebih unggul, karena contoh satu PSEL, 1.000 ton sampah mau diolah dengan investasi hampir empat triliun. Kami 1.000 ton sampah diolah enggak sampai 300 miliar biayanya," ungkap Poltak di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (11/8).
Selisih biaya yang sangat besar tersebut menjadi dasar keyakinan metode ini dapat menjadi solusi paling masuk akal bagi pemerintah.
Selain lebih murah, Poltak menjelaskan nilai kalori yang dihasilkan dari bahan bakar sampah ini juga sangat tinggi untuk kebutuhan industri.
Dia menekankan fokus utama perusahannya saat ini berupaya membantu pemerintah mempercepat penyelesaian masalah sampah nasional melalui penyediaan energi alternatif.
Bahan bakar hasil olahan ini dipastikan bisa langsung digunakan di pembangkit listrik maupun pabrik semen sebagai pengganti batubara.
Konsep waste-to-fuel yang mengubah sampah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF) dinilai lebih efisien dibanding model milik Danantara.
- Pertamina Patra Niaga Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Guwosari
- Award4Change Jadi Apresiasi Nyata untuk Mitra Pengelola Sampah
- Groundbreaking Desember 2026, PSEL Semarang Raya Ditargetkan Olah 1.000 Ton Sampah Jadi Listrik
- Kolaborasi Indofood dan Rekosistem Kelola Sampah di Ideafest 2026
- Perencanaan Matang Jadi Kunci Efektivitas Penggunaan Insinerator Modern di Proyek PSEL
- 969 Ton Sampah Palembang Mulai Dikirim ke PSEL, 141 Armada Dikerahkan
JPNN.com




