Sabtu, 17 November 2018 – 19:50 WIB

Watch Indonesia!, LSM Berlin yang Konsisten Pelototi Indonesia

Jumat, 26 Juni 2015 – 04:04 WIB
Watch Indonesia!, LSM Berlin yang Konsisten Pelototi Indonesia - JPNN.COM

DUA DEKADE: Alex Flor nampang di markas LSM yang dia pimpin di Berlin, Jerman. Watch Indonesia! secara khusus memelototi kondisi sosial, politik, dan lingkungan. Foto: Diar Candra/Jawa Pos

Di Jerman ada LSM yang lebih dari 20 tahun memelototi kondisi sosial politik Indonesia. Namanya Watch Indonesia! Berikut catatan wartawan Jawa Pos DIAR CANDRA yang awal Juni lalu mengunjungi markas LSM itu di Berlin.

Laporan Diar Candra , Berlin

BERBAGAI poster dan foto acara dalam berbagai ukuran terpasang di kantor Watch Indonesia! di salah satu ruangan apartemen di kawasan Urbanstrasse 114 Berlin. Ada poster peringatan meninggalnya aktivis HAM Munir di Berlin, diskusi soal Papua dan Timor Leste, dan foto pementasan wayang karton.

Selain poster-poster perlawanan, dalam ruang utama yang berukuran 3 x 4 meter tersebut, terdapat ratusan buku yang tertata rapi dalam rak-rak kayu. Ada yang berbahasa Jerman, Indonesia, dan Inggris.

Sebagai lembaga non-governmental organization (NGO) di Berlin, Watch Indonesia! adalah corong bagi berbagai isu politik, hak asasi, demokrasi, dan lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia dan Timor Leste. Di sela-sela meliput final Liga Champions 2015, saya mampir ke kantor LSM (lembaga swadaya masyarakat) itu. Kebetulan saat itu di markas Watch Indonesia! sedang diadakan diskusi yang membahas dukungan mereka atas penolakan reklamasi Tanjung Benoa, Bali.

Alex Flor, salah seorang pendiri sekaligus wakil direktur Watch Indonesia! mengatakan, Watch Indonesia! lahir setelah dua saksi mata tragedi Santa Cruz, Dili, Timor Timur (kini Timor Leste), berkeliling Eropa. Keduanya bukan orang Indonesia. Yakni, Russel Anderson dari Australia dan Saskia dari Belanda. Dua saksi tersebut berkeliling Eropa sambil menceritakan peristiwa di pemakaman umum Santa Cruz, Dili, itu.

’’Dua orang itu singgah di Berlin, London, Brussel, dan Paris untuk bercerita apa yang terjadi di Santa Cruz sana. Sebagai orang yang pernah punya ikatan dengan Indonesia, saya merasa terdorong untuk lebih peduli kepada Indonesia. Lalu, terbangunlah diskusi dengan beberapa orang, kemudian lahirlah Watch Indonesia! ini,” jelas Alex.

Insiden Santa Cruz terjadi pada 12 November 1991. Ribuan warga Timor berunjuk rasa tepat dua pekan setelah kematian Sebastiao Gomes Rangel, pemuda Timor Leste yang tewas tertembak milisi prointegrasi di Gereja Motael, Dili. Jenazah Sebastiao akan dimakamkan ulang di Santa Cruz dalam sebuah prosesi yang mengundang ribuan orang.

SHARES
TAGS   Features
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar