Ziarah Ziarah
Oleh: Dahlan Iskan
Anda sudah tahu seperti apa Persis: tegas. Sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur'an dan Hadis tidak boleh dikerjakan. Titik. Tidak ada titik koma.
Termasuk ziarah ke kuburan: tidak boleh. Tidak diajarkan. Tahlil tidak boleh. Orang itu kalau sudah mati, ya, sudah. Mati. Sudah terputus dengan siapa pun kecuali tiga: ilmunya, amal sedekahnya, dan doa anaknya yang saleh.

Setelah kuliah di Al Azhar sikapnya melunak, apalagi setelah ia punya bisnis travel: harus sering mengantarkan rombongan yang ingin ziarah ke kuburannya Imam Syafi'i.
Namanya Anda sudah tahu: Fauzi Syam Latif (Disway 19 Februari 2026: Tiga Huruf). Orang Bandung. Mertuanya orang Garut. Sekeluarga Fauzi Persis semua –sedangkan keluarga istrinya NU semua.
Akhirnya Fauzi menciptakan istilah baru. Jalan tengah. Ziarah kubur itu ia bagi dua: ada yang bi barokiyah dan ada yang bi tarikiyah. Yang penting jangan yang pertama: ziarah ke kuburan untuk minta berkah. Kuburan tidak bisa memberi berkah.
Mendengar Fauzi sering ke kuburan, keluarganya di Bandung heboh. Termasuk ayahnya sendiri. Fauzi dianggap orang Persis yang tidak tegak lurus lagi. Fauzi pun sibuk menjelaskan teorinya tentang dua jenis ziarah ke kuburan itu.
Terlebih lagi, ketika mertuanya meninggal dunia. Ia harus mengadakan tahlil di rumahnya selama tujuh malam. Ia diejek habis oleh keluarganya.
JPNN.com




