Sabtu, 19 Agustus 2017 – 18:06 WIB

Warga Aborijin di Kimberley Berlakukan Biaya Masuk ke Lokasi Wisata

Senin, 14 Agustus 2017 – 00:30 WIB
Warga Aborijin di Kimberley Berlakukan Biaya Masuk ke Lokasi Wisata - JPNN.COM

Ketua pengelola perusahaan masyarakat aborijin Wunambal Gaambera (WAGC), Catherine Goonack mengatakan uang masuk itu akan membantu kerja para penjaga kawasan (polisi hutan) dan pemilih lahan adat.

ABC News: Erin Parke

SHARES

Sekelompok warga Aborijin di Ujung Utara, Australia Barat telah menjadi kelompok warga pertama yang memberlakukan biaya masuk bagi penumpang kapal pesiar untuk mengunjungi situs wisata paling terkenal di dunia di pesisir Kimberly seperti air terjun dan gua dengan lukisan purba. Hal ini memicu keprihatinan kalangan operator wisata.

Biaya masuk tersebut dimulai oleh Wunambal Gaambera Aborigin Corporation (WGAC), dimana operator kapal pesiar dan kapal sewaan harus membayar biaya masuk sebesar $200 atau sebesar Rp2.110.000 untuk satu kali bersandar pada masa kunjungan wisata kali ini - yang memungkinkan para penumpang kapal pesiar melakukan kunjungan berkali-kali ke sejumlah lokasi wisata.

Biaya masuk itu akan ditingkatkan menjadi $ 152  atau setara Rp1,6 juta  per pengunjung pada 2019. Biaya ini akan dibebankan di atas biaya yang dibebankan oleh operator pelayaran untuk melakukan perjalanan ke lokasi wisata ini.

Rencana dari pihak pengelola tanah adat  (WACG) juga memapengelolaan ini juga mencantumkan 50 situs yang dapat dikunjungi orang, bersama dengan orang lain yang terlarang karena sifat keramat mereka.

Masyarakat Orang-orang Wunambal Gaambera - pemilik tanah adat - mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk membuat orang-orang lokal lebih sering pergi ke tempat-tempat terpencil  [tempat lokasi wisata berada] untuk membantu menyapa para wisatawan, untuk mengambil sampah dan memastikan situs budaya mereka terlindungi.

"Jika Anda pergi ke negara orang lain, anda harus membayar, hgal yang sama juga kami berlakukan," kata ketua WGAC, Catherine Goonack.

"Ini terutama untuk mendukung penjaga hutan [Uunguu] dan membantu pemilik lahan tradisional mendatangi kawasan tanah adat mereka dan  melindungi kawasan tersebut... dan untuk menyambut turis juga, jadi mereka dapat melihat penjaga hutan membicarakan tentang wilayah adat dan tempat dimana  mereka berada."

 
Masukkan komentarmu disini