Selasa, 19 Juni 2018 – 02:03 WIB

Qantas Merujuk Taiwan Sebagai Bagian Dari China

Senin, 04 Juni 2018 – 22:00 WIB
Qantas Merujuk Taiwan Sebagai Bagian Dari China - JPNN.COM

Maskapai plat merah Australia, Qantas akhirnya tunduk pada tekanan Beijing dengan berencana mengubah situs mereka dan merujuk Taiwan sebagai bagian wilayah dari China, bukan sebagai negara merdeka.

Pada bulan April lalu, regulator penerbangan China memberi tenggat waktu hingga 25 Mei kepada puluhan maskapai untuk menghapus referensi di situs mereka atau di materi lain yang merujuk Taiwan, Hong Kong, dan Makau adalah bagian dari negara-negara yang merdeka dari China. Tekanan ini digambarkan oleh Gedung Putih sebagai "Omong kosong Orwellian."

Qantas diberikan perpanjangan waktu untuk memutuskan apakah mereka akan memenuhi permintaan tersebut.

Pada pertemuan tahunan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada hari Senin (4/6/2018), Kepala Eksekutif Qantas, Alan Joyce mengatakan perusahaannya berencana untuk memenuhi permintaan tersebut, meskipun mereka membutuhkan waktu tambahan.

"Tujuan kami adalah untuk memenuhi persyaratan itu. Namun memang perlu waktu untuk melakukannya," kata Joyce kepada wartawan di sela-sela pertemuan IATA.

Beijing menganggap Otonom Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya dan langkah untuk mengubah status itu di situs mereka berarti Qantas akan menggemakan posisi resmi Australia terhadap Taiwan.

Menurut situs web Departemen Luar Negeri dan Perdagangan, "Pemerintah Australia tidak mengakui ROC sebagai negara berdaulat dan tidak menganggap pihak berwenang di Taiwan memiliki status sebagai pemerintah nasional."

Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri Julie Bishop telah sangat menentang upaya Beijing untuk menekan Qantas agar mengubah situs mereka, dengan menegaskan kembali pendiriannya dalam sebuah pernyataan kepada ABC.

"Perusahaan swasta harus bebas untuk melakukan operasi bisnis mereka yang biasa, bebas dari tekanan politik pemerintah," kata Ms Bishop dalam pernyataannya.

"Keputusan soal bagaimana Qantas menyusun situsnya adalah masalah manajemen perusahaan."

Pekan lalu, sejumlah Senator bertanya kepada sekretaris DFAT Frances Adamson tentang upaya China untuk meningkatkan tekanan pada maskapai penerbangan.

Frances Adamson mengatakan kepada komite Senat bahwa Pemerintah Federal "sangat menentang" taktik Beijing.

"Saya hanya ingin memperjelas bahwa sementara kami dapat mengungkapkan pandangan dalam berbagai cara - kadang-kadang sangat terbuka, kadang-kadang di belakang layar - Pemerintah tidak dapat berada dalam posisi untuk mentolerir penggunaan paksaan ekonomi," kata Adamson.

Alison Webster, kepala eksekutif unit internasional Qantas, mengatakan keputusan itu tidak dipengaruhi oleh kemitraan Qantas dengan China Eastern Airlines Corp.

"Saya kira hubungan itu tidak ada bedanya dengan cara kami meninjau tanggapan kami," kata Alison Webster.

Dia mengatakan Qantas hanya membutuhkan waktu tambahan untuk membuat perubahan karena "kami memiliki beberapa kompleksitas untuk dikerjakan".

"Ini bukan hanya Qantas Airways, ini adalah terkait dengan kelompok Qantas yang perlu disesuaikan," kata Alison Webster.

Mempertimbangkan teknologi yang menyokong situs Qantas, "butuh waktu bagi kami untuk mengatasi perubahan yang perlu dimasukkan ke dalam program," katanya.

'Ini antara pemerintah kita dan pemerintah mereka'

Air Canada, Lufthansa dan British Airways adalah salah satu operator lain yang telah melakukan perubahan pada situs web mereka setelah permintaan China.

China mengatakan pada 25 Mei bahwa 18 operator telah mengubah situs web mereka.

Kepala Eksekutif Air Canada Calin Rovanescu mengatakan dalam pertemuan IATA," Seberapapun sulit dan sensitif-nya keputusan ini, pandangan kami adalah bahwa kami akan mematuhi persyaratan pemerintah China.

"Kami tidak membuat pernyataan politik, Maskapai penerbangan sudah memiliki masalah yang cukup untuk ditangani," tambahnya.

American Airlines belum membuat perubahan di situsnya, dan mengatakan sikap itu mengikuti arahan Pemerintah AS.

"Kami menerima pemberitahuan [dari Beijing] tetapi kemudian Amerika Serikat membalas dan kami mengikuti arahan Pemerintah AS," kata kepala eksekutif Doug Parker di Sydney.

"Sekarang ini antara pemerintah kami dan pemerintah mereka."

ABC / Wires

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

 
SHARES
Komentar