Pendidikan Agama 2 Jam Sepekan di Sekolah Dinilai Masih Kurang

Pendidikan Agama 2 Jam Sepekan di Sekolah Dinilai Masih Kurang
Bu Guru dan siswa di kelas. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pendidikan agama yang diterima siswa di sekolah yang hanya dua jam sepekan dinilai masih belum cukup.

Karenanya, Mendikbud Muhadjir Effendy meminta pihak sekolah bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan agama.

"Sepekan siswa hanya dapat pelajaran agama dua jam. Ini nggak cukup untuk membangun karakter anak. Anak harus mendapatkan tambahan entah lewat madrasah diniyah, TPA atau lainnya," kata Muhadjir Effendy dalam rapat pleno Majelis Ulama Indonesia ke-19 di Jakarta, Rabu (23/8).

Untuk pembinaan pelajaran agama, lanjutnya, harus ada ekstra kurikuler untuk memerkuat pendidikan keagamaan.

Sekarang sekolah tidak bisa lagi seragam tapi sudah bervariasi. Sekolah boleh mengembang diri sesuai ekosistem di tempatnya.

"Sekolah menjadi sentral, lingkungan sekitar dijadikan sumber-sumber belajar. Itulah tugas guru delapan jam itu, memantau aktivitas siswa baik di luar maupun di dalam kelas, keluarga," bebernya.

Dengan cara itu menurut Muhadjir mengajarkan murid lebih aktif dan bukan guru yang aktif. Itu sebabnya pendidikan agama bisa didapat dari sekolah, masyarakat (lembaga keagamaan) dan keluarga.

"Jadi masyarakat, keluarga dan sekolah adalah ekosistem pendidikan. Semuanya saling mendukung dan punya keterikatan erat," tandasnya. (esy/jpnn)


Pendidikan agama yang diterima siswa di sekolah yang hanya dua jam sepekan dinilai masih belum cukup.


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News