Senin, 22 Desember 2014 | 00:16:47
Home / Lifestyle / Angka Kematian Ibu Melahirkan Masih Tinggi

Rabu, 22 Agustus 2012 , 06:36:00

BERITA TERKAIT

JAKARTA - Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Sejak 2007 hingga sekarang, angka kematian ibu melahirkan hampir menembus 300 kasus di antara 100 ribu kelahiran.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti menuturkan, pada 2007, di antara 100 ribu kelahiran, 282 ibu meninggal. Angka tersebut masih stagnan hingga kini. Meski, target pemerintah adalah 102 kematian setiap 100 ribu kelahiran.

Pemerintah, kata dia, telah melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah kematian ibu. Salah satunya, meningkatkan kuota dan nilai program jaminan persalinan (jampersal).

"Insentif jampersal sudah dinaikkan dari Rp 430 ribu menjadi Rp 660 ribu. Selain itu, kuotanya ditambah menjadi 2,5 juta ibu hamil," jelas Ali, Selasa (21/8).

Menurut dia, nilai program jampersal berlaku bagi setiap satu persalinan. Program jampersal juga meliputi pelayanan pemeriksaan kehamilan hingga pelayanan sesudah melahirkan (postnatal care). Sebenarnya, kata dia, program jampersal berlangsung mulai tahun lalu.

Bahkan, lanjut Ali, sejak 1990, banyak bidan yang membuka praktik sendiri untuk menolong persalinan. "Para bidan yang buka praktik persalinan memotong penghasilannya 10 persen untuk ibu tak mampu. Tapi, tetap saja program itu tidak bisa menyelesaikan masalah," ujarnya.

Karena itu, tegas dia, pemerintah menggagas program lain. Misalnya, sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT). Saat ini, pemerintah menggalakkan SPGDT di sejumlah rumah sakit di seluruh Indonesia. Dengan SPGDT, para ibu hamil yang mendekati waktu persalinan bisa memanfaatkan fasilitas mobil jemputan rumah sakit.

"Jadi, para ibu hamil yang hendak melahirkan tinggal telepon ke rumah sakit, lalu akan dijemput pihak rumah sakit. Jadi, bisa ditangani dengan cepat. Kalau diperlukan ambulans, ya akan dijemput pakai ambulans," katanya.

Namun, mantan dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengakui bahwa pelayanan SPGDT belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Hanya rumah sakit besar atau rumah sakit rujukan yang sudah memiliki layanan tersebut. "Umumnya daerah-daerah terpencil seperti di kawasan perbatasan atau kepulauan terluar," jelasnya.

Sistem informasi di daerah-daerah tersebut, lanjut dia, belum berkembang, sehingga cukup sulit berkomunikasi melalui telepon. Untuk menyiasati, pemerintah pun menggunakan puskesmas keliling atau pesawat kecil.

"Namanya flying health care. Jadi, pesawat-pesawat kecil yang menjangkau daerah-daerah terpencil. Untuk puskesmas keliling, kami gunakan kapal dan perahu. Sementara baru itu yang bisa dilakukan untuk menjangkau sejumlah daerah tersebut," imbuh dia. (ken/c5/nw)
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar