Minggu, 18 Agustus 2019 – 07:49 WIB

Atasi Unjuk Rasa di Hong Kong, Tiongkok Libatkan Aktor Jackie Chan

Jumat, 16 Agustus 2019 – 20:00 WIB
Atasi Unjuk Rasa di Hong Kong, Tiongkok Libatkan Aktor Jackie Chan - JPNN.COM

Hanya beberapa ratus meter dari kompleks olahraga Shenzhen Bay di mana ribuan polisi paramiliter dan truk mereka berkumpul, turis serta penduduk setempat menikmati jalan-jalan sore di sepanjang teluk tersebut.

Beberapa orang tampaknya sadar akan pasukan yang telah dikumpulkan Pemerintah Tiongkok di dalam stadion yang diamankan dengan ketat di dekatnya.

Tetapi semua orang yang berbicara dengan ABC sangat menyadari adanya kerusuhan, yang mencengkeram Hong Kong, kota yang hanya terletak beberapa kilometer jauhnya di seberang selat.

"Saya membaca berita tentang Hong Kong dan saya pikir mereka benar-benar di luar kendali. Orang-orang muda berhenti bekerja untuk memprotes," kata seorang perempuan berusia dua puluhan bernama Wang, yang menolak untuk memberikan nama lengkapnya.

Awalnya ketika protes dimulai, di mana 2 juta orang berunjuk rasa menentang kesepakatan ekstradisi dengan Tiongkok daratan, pasukan sensor Beijing mencoba untuk menghapus setiap penyebutan aksi ini dari internet di negara itu.

Tetapi dengan penyebaran berita yang masif, Pemerintah Tiongkok tiba-tiba mengubah taktik.

Sebagai gantinya, mereka membuat Hong Kong sebagai berita utama, meluncurkan kampanye propaganda lengkap untuk menghujat para pemrotes sebagai "kriminal kejam", "penjahat" dan bahkan mengatakan beberapa di antaranya adalah "teroris".

Bentrokan kekerasan mingguan dengan polisi telah digambarkan oleh Beijing sebagai kesalahan total para pemrotes "radikal".

Di internet global di luar sensor Tiongkok, perang informasi sengit telah meletus antara kelompok pro dan anti-Tiongkok. Muncul video pendek yang sangat diedit dari kedua sisi sebagai alat utama pertempuran.

"Mereka meminta demokrasi pada orang Amerika kan?," kata seorang mahasiswa bermarga Zhang sambil menyeruput teh susu di tepi pantai Shenzhen Bay.

"Saya pikir pihak asing telah mendukung kerusuhan itu dan memperburuknya," katanya.

"Banyak anak muda Hong Kong yang menyalahgunakan demokrasi untuk memusnahkan hubungan Tiongkok dan Hong Kong secara egois," katanya.

Dalam beberapa hari terakhir, upaya yang didalangi negara untuk mengendalikan narasi itu memburuk ketika sekelompok pemrotes di Bandara Internasional Hong Kong mengerumuni dua orang pria, mengikat mereka dan mempermalukan mereka sementara para turis yang telantar menyaksikannya.

Salah satu korban, seorang wartawan untuk Global Times dari Partai Komunis, ditemukan memiliki kaus pro-polisi, memicu tuduhan dari para pengunjuk rasa bahwa ia adalah seorang informan yang mencoba menyusup ke dalam kelompok tersebut.

Tetapi foto-foto dari sekelompok pemuda bertopeng yang menyorotkan amarah dan mengaraknya dengan troli bagasi dan tereksposmedia dunia telah menyebabkan kemarahan otoritas Tiongkok daratan.

"Ia dipukuli hanya karena ia mendukung kepolisian Hong Kong. Ini sangat berbeda dari apa yang mereka katakan tentang demokrasi dan kebebasan. Ini konyol," kata seorang mahasiswa lain yang bermarga Qiu, yang juga tak ingin memberikan nama lengkapnya.

Bela bendera Tiongkok

Banyak penduduk Tiongkok daratan merasa warga Hong Kong memiliki hak istimewa dan telah lama memandang rendah mereka sebagai sepupu yang lebih miskin dan tertindas yang tak memiliki kemakmuran global dari bekas koloni Inggris - sebuah persepsi yang diperkuat oleh aksi unjuk rasa ini.

"Sebagai orang daratan, kami mungkin didiskriminasi di Hong Kong," kata Qiu.

"Saya pikir Hong Kong adalah bagian dari Tiongkok, kami adalah satu keluarga. Kami tak ingin mendengar 'persetan', kami ingin diperlakukan dengan adil," katanya.

Dalam beberapa pekan terakhir, media pemerintah Tiongkok juga telah menggencarkan kampanye tentang bendera negara itu, setelah pengunjuk rasa memotong satu bendera dan melemparkannya di pelabuhan Hong Kong -tindakan yang akan dipenjarakan di Tiongkok daratan.

Di antara selebriti terkemuka yang bergabung dengan kampanye online untuk "menjaga" kehormatan bendera itu adalah Jackie Chan, artis kelahiran Hong Kong, yang minggu ini muncul di televisi Pemerintah untuk mengekspresikan patriotismenya dan rasa hormatnya.

Campur tangan asing juga merupakan tema sentral dari upaya Beijing untuk membingkai gerakan protes itu, mengklaim "operasi rahasia" CIA (badan intelijen AS) sebagai pemicu kerusuhan.

Media asing juga menimbulkan kecurigaan.

Dalam beberapa menit setelah memulai wawancara di pantai Teluk Shenzhen untuk mengukur sentimen lokal terhadap Hong Kong, pasangan muda yang berkunjung dari Beijing menolak untuk berbicara dengan ABC, mengklaim bahwa kami akan "mencoreng Cina".

Mereka kemudian segera pergi ke dua anggota polisi militer yang berpatroli untuk melaporkan kami, dan berjalan pergi.

Sepasang petugas berpakaian kamuflase memfilmkan dan mengikuti kami sampai kami pergi.

Simak informasi studi, bekerja, dan tinggal di Australia hanya di ABC Indonesia dan bergabunglah dengan komunitas kami di Facebook.

 
SHARES
Komentar