Cara Jitu Kementan Selamatkan Sawah Kekeringan di Indramayu

Cara Jitu Kementan Selamatkan Sawah Kekeringan di Indramayu
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy (jongkok tengah). Foto: Humas Kementan

"Yang penting tanaman padinya terselamatkan. Namun dampaknya petani di ujung (hilir) tidak kebagian air," tuturnya.

Kabupaten Indramayu memang dikenal sebagai daerah dengan potensi air yang rendah dan mayoritas petani tidak mengindahkan rekomendasi petugas untuk bertanam.

"Potensi sumber air juga hanya bisa mengairi sawah yang terdekat dengan sumber air," ujarnya.

Karenanya, pompanisasi bisa menjadi jalan bagi sawah yang terletak jauh dari sumber air. Namun, penggunaan pompanisasi juga membutuhkan upaya lainnya agar petani mendapatkan air yang merata.

Lebih lanjut Sarwo Edhy menuturkan, jika pemerintah telah mengupayakan berbagai upaya untuk mengatasi kekeringan tersebut, utamanya bagi daerah yang terkenal rawan kekeringan.

Mulai dari perbaikan saluran irigasi (jitut dan jides), mobilisasi pompa air untuk mengamankan standing corp terutama pada daerah yang masih memiliki sumber air (sumur pantek, sungai dan lain sebagainya).

Kemudian melakukan penerapan teknologi yang efektif dan efisien supaya areal yang terairi lebih luas, seperti gilir giring, intermiten dan sebagainya.

Sedangkan pada areal yang akan tanam, dilakukan perhitungan kecukupan air hingga panen dengan memanfaatkan informasi iklim (KATAM TERPADU). Dan petani direkomendasikan menggunakan varietas padi tahan kekeringan dan umur genjah.

Sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masih berpotensi mengalami kekeringan ekstrim pada dasarian II Juli 2019.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News