DIBI, Sistem Baru BNPB untuk Melihat Catatan Kebencanaan di Indonesia

DIBI, Sistem Baru BNPB untuk Melihat Catatan Kebencanaan di Indonesia
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Foto: dok BNPB

Kemudian secara spasial, BNPB juga memiliki data kejadian bencana lewat peta krisis melalui laman yang bisa diunduh di gis.bnpb.go.id. Selain itu juga BNPB juga memiliki aplikasi Inarisk yang bisa diunduh di inarisk.bnpb.go.id.

Di laman Inarisk, kata Teguh, masyarakat bisa mengetahui risiko bencana di wilayahnya seperti banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan gunung api, tanah longsor, tsunami, dan bencana multibahaya.

"Bagaimana kita bisa melihat satu daerah atau kalau kita pergi ke suatu daerah, kita bisa mengetahui di daerah tersebut tinggi sedang atau rendah dari misalkan satu jenis bahaya bencana. Ada juga yang penilaian dari sisi multi bencana, multi bahaya bencana," kata Teguh.

Sementara itu, Kepala Sub Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Spasial BNPB Andri Cipto Utomo mengatakan sebanyak 2.938 kejadian bencana terjadi di 34 Provinsi di Indonesia sepanjang tahun ini. Data itu seperti tertuang dalam situs gis.bnpb.go.id hingga 30 Desember 2020.

Rinciannya yakni 16 gempa bumi, tujuh letusan gunung api, 326 Karhutla, 29 kekeringan, 1.067 banjir, 573 tanah longsor, 877 puting beliung, 36 gelombang pasang atau abrasi, dan bencana nonalam COVID-19.

Dari jumlah tersebut, 370 orang meninggal dunia, 39 hilang, 536 orang luka dan 6.431.310 orang menderita atau mengungsi.

"Bapak ibu bisa download di sini (gis.bnpb.go.id, red) jumlahnya," kata Andri. (ast/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:

BNPB membuat sistem bernama Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI). Sistem itu berisikan tentang data terkait kejadian bencana di Indonesia. 


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News