Duka Warga yang Tertembak Peluru Aparat di Pelabuhan Sape

Ditinggal Kekasih karena Kaki Lumpuh

Duka Warga yang Tertembak Peluru Aparat di Pelabuhan Sape
Ismail Abdullah 55,warga Desa Rato, Kecamatan Lambu, Bima, mengalami banyak luka tembak di dadanya. Bahkan peci yang dikenakannya tertembus peluru petugas saat peristiwa kerusuhan di Pelabuhan Sape 24 Desember 2011. Foto : Boy Slamet/Jawa Pos
 

Untuk menghindari tembakan, Ismail sampai terjun ke laut. Dia kemudian ditolong keponakannya yang bernama M. Mahfud, 31. Ayah tiga anak itu lantas dibawa ke Puskesmas Lambu. Dua pelor berhasil dikeluarkan dari dada Ismail, sedangkan dua lainnya dikeluarkan di RSU Kota Bima.

Selanjutnya, selama seminggu dia dirawat intensif di RSUD Mataram. "Sekarang dada saya terasa sesak. Kalau bernapas, terasa berat," ujar Ismail.

 

Perlakuan polisi yang dinilai sewenang-wenang itu langsung mendapat perhatian dari Jakarta. Komnas HAM dan LSM Kontras langsung turun ke lokasi. Hasilnya, dua lembaga yang konsen dengan urusan masyarakat sipil tersebut menyimpulkan adanya pelanggaran berat HAM dalam insiden di Sape.

 

Tentang korban tewas dan puluhan warga yang tertembak, Kapolres Kota Bima AKBP Kumbul K.S. tak bisa menyangkal bahwa ada pelanggaran berat dalam kasus itu. Dalam keterangannya kepada koran ini, sekitar 10 orang sedang diperiksa di Polda NTB.

Tragedi di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), 24 Desember lalu, menyisakan duka mendalam bagi para korban. Ada yang kehilangan nyawa,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News