Gajah Mati Semua Sibuk

Merasa Disudutkan, Masyarakat Protes

Gajah Mati Semua Sibuk
Bangkai gajah yang ditemukan membusuk di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Bengkalis.

jpnn.com - BENGKALIS - Temuan bangkai gajah yang diduga tewas dibunuh di areal perladangan penduduk di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Bengkalis Riau Jumat (13/6) petang lalu kini memunculkan sebuah dilema. Semua pihak sibuk setelah mendengar berita tentang kematian gajah itu. Sementara masyarakat yang selama ini dirugikan oleh serentetan aksi kawanan gajah itu pun tidak terima kalau merekalah yang diposisikan sebagai paling bersalah dalam kasus ini.

''Kalau gajah yang mati, semua sibuk. Tapi kalau gajah itu masuk kampung lalu merusak rumah, menimbulkan ketakutan dan meluluhlantakkan tanaman warga, seolah tidak ada yang peduli. Padahal sejak gajah itu berkeliaran di desa kami sudah dilaporkan ke mana-mana. Tapi tidak ada tindakan sama sekali dari pihak-pihak terkait. Jangankan untuk turun ke lapangan, komentar mereka pun tidak ada sama sekali,'' ujar Adihan, tokoh pemuda Balai Pungut.

Adihan yang juga Ketua PAC Partai Matahari Bangsa (PMB) Kecamatan Pinggir ini pun menyebut, bangkai gajah yang tewas itu ditemukan di perladangan milik keluarganya. Dia setuju-setuju saja kalau gajah yang terancam punah itu dilindungi pemerintah. Namun pemerintah pun hendaknya tak mengabaikan keluhan dan derita penduduk setempat yang sebagian besar hidup dari hasil pertanian.

Menurutnya, kawanan gajah liar berjumlah puluhan ekor itu sudah dua periode memasuki kawasan pedesaan Balai Pungut. Dalam aksinya terakhir di desa setempat, beberapa rumah telah dirusak dan ratusan atau bahkan ribuan pokok sawit penduduk setempat habis dimamah kawanan satwa langka itu.

''Kasus ini sudah dilaporkan kepada kepala desa. Kepala desa meneruskan ke camat dan camat pun  meneruskan ke Bengkalis. Menurut Bengkalis hal ini adalah tanggungjawab provinsi. Hasilnya tidak ada sama sekali. Tindakan nyata dari pihak terkait di provinsi pun tidak tampak hingga kini. Baru setelah gajah mati semua sibuk, seolah-olah perikegajahan mereka jauh lebih tinggi daripada perikemanusiaannya,'' papar Adihan lagi.

Setelah hutan tidak lagi memberikan kayu, menurut Adihan, mata pencaharian penduduk Desa Balai Pungut adalah dari hasil pertanian dan perkebunan. Dengan masuknya gajah ke kawasan hunian penduduk, usaha pertanian dan perladangan sawit yang mulai ditekuni penduduk setempat menjadi terancam.

“Padahal di desa kami, 99 persen warganya adalah penduduk asli tempatan yang terdiri dari Melayu dan Sakai yang menggantungkan hidup dari hasil tani. Namun ketika gajah itu mati, seolah masyarakat kamilah yang diposisikan sebagai orang paling bersalah,'' ujarnya kecewa. (sda/jpnn)

Berita Selanjutnya:
Unmul Siapkan 2.500 Kursi

BENGKALIS - Temuan bangkai gajah yang diduga tewas dibunuh di areal perladangan penduduk di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Bengkalis Riau


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News