Garuda Masker Lima

Garuda Masker Lima
Dahlan Iskan. Foto: disway.id

Di swasta. Orang seperti kami biasa curiga. Jangan-jangan ada komisi di balik transaksi itu. Maka kemungkinan adanya komisi itulah yang kami ambil –untuk penghematan di perusahaan. Perusahaan bisa mendapat barang lebih murah.

Lama-lama direksi kami tahu: tidak ada gunanya berusaha cari komisi. Lama-lama membudayalah menjadi perusahaan yang lebih bersih.

Prinsip seperti itulah yang sulit dilakukan di BUMN. Apalagi BUMN yang sudah go public seperti Garuda.

Pemegang saham tidak boleh mencampuri urusan direksi. Sama sekali. Begitu pemegang saham campur tangan akan dianggap melanggar UU.

Apalagi di BUMN itu begitu sering ganti direksi. Juga harus ganti pemegang saham tiap lima tahun –sesuai dengan jadwal Pemilu lima tahunan.

Membudayakan perusahaan bersih sulit sekali dilakukan.

Sebelum budaya bersih terbentuk sudah berubah lagi. Beda dengan di swasta. Yang pemegang sahamnya itu-itu terus. Yang direksinya itu-itu terus.

Budaya apa saja bisa dibentuk dengan utuh di swasta. Yang jelek maupun yang baik.

Kalau malu datang ke PKPU mintalah komisaris mendampingi. Orang seperti Yenny Wahid akan mau. Pakailah masker rangkap lima.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News