Guru Besar UGM: Siapa yang Klaim Merokok Bisa Cegah Corona?

Guru Besar UGM: Siapa yang Klaim Merokok Bisa Cegah Corona?
Ilustrasi rokok. Foto: pixabay

jpnn.com, YOGYAKARTA - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada Yayi Suryo Prabandari membantah klaim yang menyebutkan bahwa merokok mampu mencegah seseorang terjangkiti Corona (COVID-19).

"Klaim yang beredar sangatlah keliru karena kebiasaan merokok itu tidak sehat. Justru merokok menjadikan seseorang menjadi lebih rentan terhadap serangan virus, bakteri, dan penyakit lainnya," kata Yayi dikutip dari laman UGM, Kamis (16/4).

Ia mengatakan, menjadi perokok justru dapat menyebabkan seseorang mudah sakit. Tidak hanya rentan terinfeksi COVID-19, tetapi juga penyakit-penyakit lain, seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Bahkan, Yayi menyebutkan bahwa para perokok memiliki risiko yang lebih besar daripada orang yang tidak merokok untuk tertular virus corona jenis baru itu.

Selain kelompok usia lanjut dan orang-orang dengan penyakit bawaan, para perokok menjadi salah satu kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi COVID-19.

Menurut dosen pada Departemen Perilaku, Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM ini, apabila perokok terinfeksi COVID-19 maka akan memperberat kondisi tubuhnya.

Sebab, perokok sudah mempunyai masalah di paru-paru akibat zat-zat kimia yang terisap saat merokok dan saluran nafas perokok berkurang fungsinya akibat aktivitas merokok dalam jangka waktu lama.

"Dalam sebuah penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal internasional menyebutkan bahwa pasien COVID-19 yang merokok dua kali lebih berisiko dan membutuhkan perawatan intensif di ICU, membutuhkan alat bantuan pernafasan, mengalami kematian karena COVID-19," kata dia.

Perokok tidak hanya rentan terinfeksi Corona, tetapi juga penyakit-penyakit lain, seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News