Hari AIDS Dirayakan Saat Anak Indonesia dengan HIV Masih Kesulitan Obat

Hari AIDS Dirayakan Saat Anak Indonesia dengan HIV Masih Kesulitan Obat
Anggota Komunitas Literasa Kolektif dalam sebuah eksperimen sosial untuk mengedukasi masyarakat pada peringatan hari AIDS sedunia tahun lalu. (Foto: Antara, Maulana Surya)

Dari jumlah tersebut baru, sebanyak 398.784 orang yang telah terdata di mana di antaranya hanya 205.945 orang yang mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).

Di awal masa pandemi COVID-19 di Indonesia, Ayu mengaku sempat khawatir menyusul pemberitaan stok ARV yang kosong di beberapa tempat.

"Dibanding bulan Maret-April lalu, [di] penghujung tahun ini ada perubahan ... karena akhirnya si obat datang dan [stoknya] lebih pasti dan lebih stabil."

"Tetapi beberapa waktu yang lalu, salah satu jenis obat untuk anakku sempat kosong dan membuat panik."

Natasya Sitorus, manajer advokasi Lentera Anak Pelangi, yayasan yang memberikan dukungan kesehatan, psikososial, hingga advokasi kepada anak-anak yang hidup dengan HIV, membenarkan hal ini.

"Memang berangsur normal, tapi tetap masih ada satu jenis obat ARV yang menurut data Kemenkes tersedia, tapi nyatanya di Jakarta nggak tersedia, sehingga sebagian besar anak-anak yang harusnya minum dosis anak terpaksa minum obat yang untuk dewasa," ujar Tasya.

Tasya mengatakan pemberlakukan PSBB yang sempat diberlakukan Pemprov DKI Jakarta menyebabkan anak-anak tidak bisa ke rumah sakit untuk mengambil obat mereka.

Sebagai gantinya, ada orang-orang yang mengambil risiko untuk ke rumah sakit untuk mengambil obat supaya anak-anak dengan HIV bisa terus minum obat.

Pada tahun 2009, Ayu Oktariani untuk pertama kalinya mengetahui bahwa ia terinfeksi 'human immunodeficiency virus' atau HIV

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News