Hotspot Karhutla Selama 2016 Turun Drastis

Hotspot Karhutla Selama 2016 Turun Drastis
TERBAKAR: Lahan gambut seluas sekitar 1 hektare terbakar di Kawasan Kelurahan Bansir Darat, Pontianak Tenggara, Selasa (10/1). Kebakaran lahan gambut kerap menyebabkan terjadinya bencana kabut asap. Foto: Haryadi/Pontianak Post/JPNN

jpnn.com - jpnn.com - Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengklaim, jumlah hotspot kebakaran dan hutan dan lahan (karhutla) pada 2016 menurun drastis dibanding 2015.

"Kita perlu bersyukur kebakaran hutan dan lahan pada 2016 mengalami penurunan drastis. Pantauan satelit NOAA, jumlah hotspot turun sebesar 82,14 persen, sedangkan satelit terra aqua jumlah hotspot turun 94,58 persen. Cukup besar," ujar Wiranto, Senin (23/1).

Dia menyampaikan, pada 2016, kejadian karhutla tidak berdampak terhadap kondisi sosial ekonomi dan politik secara nasional maupun regional.

Jumlah hari status tanggap darurat bahkan dapat diturunkan dari 150 hari pada 2015 menjadi nol tahun lalu.

Hal tersebut tidak lepas dari meningkatnya partisipasi dan kesadaran para pemangku kepentingan untuk tidak melakukan pembakaran saat pengolahan lahan.

Keberhasilan itu juga terbantu dengan iklim musim hujan yang lebih lama dibanding biasanya.

Namun, kata Wiranto, keberhasilan itu bukan tanpa kendala.

"Terdapat hambatan penggunaan APBD oleh Pemda untuk menggerakkan satgas dan instansi daerah yang disebabkan oleh Permendgari 21/2011 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Penggunaan dana itu hanya boleh saat tanggap darurat, sebelumnya belum dapat digunakan," ungkap Wiranto.

Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto mengklaim, jumlah hotspot kebakaran dan hutan dan lahan (karhutla) pada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News