Sabtu, 22 September 2018 – 08:17 WIB

Ilmuwan Australia Kenang Fisikawan Stephen Hawking

Rabu, 14 Maret 2018 – 20:00 WIB
Ilmuwan Australia Kenang Fisikawan Stephen Hawking - JPNN.COM

Fisikawan Stephen Hawking meninggal dunia pada usia 76 tahun.

Poin utama:

• Stephen Hawking dijuluki sebagai salah satu ahli fisika teoritis paling brilian sejak Albert Einstein
• Ia divonis dua tahun untuk bertahan hidup saat didiagnosa menderita penyakit syaraf motorik pada tahun 1963
• Karya Profesor Hawking berkisar dari asal mula alam semesta, sampai pada prospek perjalanan waktu

Ia meninggal dengan tenang di rumahnya di Cambridge pada Rabu (14/3/2018) dini hari (waktu setempat), menurut sebuah pernyataan dari keluarganya.

"Keluarganya meminta agar diberi waktu dan privasi untuk meratapi kepergiannya, tapi mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah berada di sisi Profesor Hawking - dan mendukungnya - sepanjang hidupnya," kata pernyataan tersebut.

Profesor Hawking, yang dijuluki salah satu fisikawan teoritis paling brilian sejak Albert Einstein, meninggal pada hari ulang tahun Einstein yang ke 139.

Anak-anak Profesor Hawking, Lucy, Robert dan Tim mengatakan bahwa mereka sangat sedih atas kepergian ayah mereka.

"Ia adalah ilmuwan hebat dan pria luar biasa yang pekerjaan dan warisannya akan terus dikenang selama bertahun-tahun. Keberanian dan ketekunannya dengan kecemerlangan dan humornya menginspirasi orang-orang di seluruh dunia," kata anak-anak Hawking.

"Ia pernah berkata, ‘Ini tidak akan menjadi alam semesta jika bukan rumah bagi orang yang kamu cintai'. Kami akan merindukannya selamanya."

Universitas Cambridge akan membuka buku bela sungkawa di Kampus Gonville dan Caius bagi mereka yang ingin memberikan penghormatan atas hidupnya.

Profesor Hawking berusaha menjelaskan beberapa pertanyaan hidup paling rumit saat ia bekerja di bawah bayang-bayang kemungkinan kematian dini.

Pada tahun 1963, ia didiagnosa menderita penyakit syaraf motorik dan divonis dua tahun untuk bertahan hidup.

Profesor Hawking kemudian menjadi seorang peneliti di Universitas Cambridge dan peneliti tamu di Kampus Gonville dan Caius.

Ia adalah seorang Profesor Lucasian di universitas tersebut dari tahun 1979 sampai 2009, sebuah posisi yang sebelumnya dipegang oleh Isaac Newton pada tahun 1663.

Karyanya berkisar dari asal-usul alam semesta itu sendiri, melalui prospek perjalanan menggiurkan ke misteri lubang hitam yang menghabiskan banyak ruang.

Namun kekuatan kecerdasannya sangat kontras dengan kelemahan tubuhnya, yang dilanda penyakit yang mulai dialaminya pada usia 21 tahun.

Sebagian besar hidup Hawking bergantung pada kursi roda. Seiring dengan memburuknya kondisi fisik, ia terpaksa berbicara menggunakan alat pemroduksi suara dan berkomunikasi dengan menggerakkan alisnya.

Penyakit ini mendorongnya untuk bekerja lebih keras namun juga berkontribusi pada keruntuhan dua pernikahannya, tulisnya dalam sebuah buku memoar ‘My Brief Memoir’ (sejarah singkat saya).

Dalam buku tersebut, Profesor Hawking menceritakan bagaimana ia pertama kali didiagnosa: "Saya merasa ini sangat tidak adil - mengapa ini harus terjadi pada saya?”.

"Pada saat itu, saya pikir hidup saya sudah berakhir dan bahwa saya tidak akan pernah menyadari potensi yang saya punya. Tapi sekarang, 50 tahun kemudian, saya bisa merasa puas dengan tenang atas hidup saya."

Hawking berhasil meraih ketenaran internasional setelah penerbitan ‘A Brief History of Time’ di tahun 1988, salah satu buku paling rumit yang pernah menimbulkan daya tarik massal, yang bertahan dalam daftar terlaris ‘Sunday Times’ tak kurang dari 237 minggu.

Dia mengatakan bahwa dirinya menulis buku tersebut untuk menyampaikan kegembiraannya sendiri atas penemuan baru-baru ini tentang alam semesta.

"Tujuan awalnya adalah menulis buku yang akan dijual di toko buku bandara," katanya.

"Untuk memastikan bahwa buku ini bisa dimengerti, saya mencoba buku ini ke perawat saya. Saya rasa mereka mengerti sebagian besar dari itu."

Ilmuwan Australia kenang Hawking

Rekan peneliti dan manajer keterlibatan masyarakat di Observatorium Mt Stromlo di Universitas Nasional Australia (ANU), Dr Brad Tucker, mengatakan bahwa Profesor Hawking mendorong para peneliti untuk menantang diri mereka sendiri dan hal yang tidak diketahui.

"Ia pergi dengan menginspirasi banyak dari kami dan telah membantu kami untuk mengatasi pertanyaan besar yang telah ditanyakan oleh manusia selama berabad-abad," katanya dalam sebuah pernyataan.

Profesor Alan Duffy, seorang peneliti di Pusat Astrofisika dan Komputasi Super serta ilmuwan utama di Royal Institution of Australia, mengatakan bahwa Profesor Hawking memperkaya kehidupan jutaan orang dengan perspektif sains dan kosmiknya yang terbaru.

"Profesor Hawking adalah inspirasi bagi saya tak hanya untuk menjadi ilmuwan, tapi juga komunikator sains itu," kata Profesor Duffy.

"Karyanya sebagai ahli kosmologi dan penemuan fisika lubang hitam memang legendaris.”

"Prediksi paling terkenalnya, yang disebut oleh masyarakat sebagai Radiasi Hawking, mengubah lubang hitam dari penjara gravitasi yang tak terhindarkan menjadi benda yang malah mengecil dan memudar seiring berjalannya waktu."

Profesor Duffy mengatakan bahwa selera humor Profesor Hawking membantu mendorongnya menjadi bintang papan atas.

"Melalui semua itu, tentu saja, penyakitnya membuat prestasinya hampir seperti manusia super," katanya.

"Bagaimana ia memanipulasi persamaan Einstein dalam pikirannya saat ia tak lagi memegang pena yang bahkan tak bisa saya bayangkan."

Adam Spencer reflects on the life and legacy of Stephen Hawking Video: Adam Spencer reflects on the life and legacy of Stephen Hawking (ABC News)

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

 
SHARES
Komentar