Imbangi Prakiraan Cuaca dengan Kalender Jawa Plus Firasat

Imbangi Prakiraan Cuaca dengan Kalender Jawa Plus Firasat
DEDIKASI TINGGi: Sriyanto selalu siaga di pintu air Morokrembangan. Foto: Dipta Wahyu/Jawa Pos

Sebagai benteng pertahanan banjir yang strategis, pompa air di Morokrembangan tidak pernah mati. On terus 24 jam. Sebab, kalau mati, mereka perlu waktu untuk memanaskan pompa. Pengurasan pun terhambat.

Yang dianggap problem utama oleh Sriyanto adalah sampah. Di muara akhir, selalu saja ada sampah yang terangkut setiap hari. Setidaknya, ada 4–5 rit (jalur pergi-pulang) truk yang mengangkuti buangan masyarakat kota tersebut. ’’Saya ini heran dengan orang Surabaya. Kok nggak sadar-sadar. Kalau banjir, kan mereka sendiri yang repot,’’ jelas pegawai negeri sipil golongan I tersebut.

Memang saat ini pengambilan sampah jadi lebih mudah. Sudah ada peranti bernama mechanical screen yang dioperasikan sejak 2009.

Rasanya, laut dan pintu air memang sudah jadi bagian dari kehidupan Sriyanto. Sebab, sudah empat kali dia berpindah-pindah dari satu pintu air ke pintu air yang lain.

Kini Sriyanto hanya menjalani karir yang dimulai dari nol itu secara istiqamah. Dia beranggapan, semua profesi yang dilaksanakan secara baik pasti menjadi berkah dan nikmat.

Yang kerap dia lakukan adalah membunuh kejenuhan bersama tim pemantau air yang sudah menjadi keluarga kedua. Di sela-sela mengawasi tingkat air, mereka menonton TV bersama, memancing dan membakar ikan, serta makan bareng. Kebersamaan bersahaja mereka, sedikit banyak, menyelamatkan warga Surabaya dari ancaman banjir. (*/c6/dos)

 


KESELAMATAN sebagian warga Surabaya bergantung pada kiprah Sriyanto dan timnya. Lengah sedikit, salah-salah kota metropolis ini berubah jadi genangan


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News