Indeks Perdamaian Global 2019

Indeks Perdamaian Global 2019
Indeks Perdamaian Global 2019
Indeks Perdamaian Global 2019 Photo: Wilayah yang paling berisiko dari bahaya iklim adalah Asia-Pasifik dan Asia Selatan.
(Supplied)

Laporan ini mendapati bahwa tekanan iklim bisa berdampak buruk terhadap ketersediaan sumber daya dan memengaruhi dinamika populasi, yang dapat memengaruhi stabilitas sosial ekonomi dan politik.

"Ketika Anda mulai mendapatkan efek besar dari perubahan iklim, Anda mulai menerima gelombang besar pengungsi," kata Killelea, seraya menambahkan bahwa migrasi ini dapat meningkatkan ketidakstabilan dan dampak terorisme pada negara-negara yang dituju.

Killelea mendaftar beberapa negara di mana perubahan iklim telah menyebabkan atau memperburuk kekerasan termasuk Nigeria, di mana degradasi tanah telah menyebabkan konflik atas sumber daya yang langka, Haiti setelah beberapa badai dan gempa bumi, dan Sudan Selatan, di mana pengeringan Danau Chad telah memperburuk ketegangan.

Pada 2017, lebih dari 60 persen dari total orang yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya di dunia disebabkan oleh bencana terkait iklim, sementara hampir 40 persen disebabkan oleh konflik bersenjata.

Menurut Pusat Pemantauan Pengungsian Internal, lebih dari 265 juta orang telah terlantar secara internal oleh bencana alam sejak 2008, dengan wilayah Asia-Pasifik yang paling parah terkena dampaknya.

Migrasi yang dipicu oleh iklim diperkirakan akan terus meningkat, dan di kawasan yang menghadapi risiko tertinggi, Australia dapat sangat terpengaruh.

Para petani di Australia telah mulai bermigrasi ke selatan untuk mencari padang rumput yang lebih hijau, karena kekeringan dan penggurunan telah menghancurkan kawasan di utara Australia.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News