Selasa, 20 November 2018 – 14:39 WIB

Keluarga Is Haryanto setelah Sang Maestro Pencipta Lagu Itu Pergi

Selasa, 02 Juni 2009 – 06:20 WIB
Keluarga Is Haryanto setelah Sang Maestro Pencipta Lagu Itu Pergi - JPNN.COM

Dalam usia 69 tahun, penyanyi dan pencipta lagu Is Haryanto pergi Selasa (26/5) lalu. Selain istri dan lima anak, dia meninggalkan ribuan lagu yang diciptakan semasa hidup. Almarhum berpesan agar anak-anaknya menyelamatkan semua lagu itu.

---------------------------------------------------------
AGUNG PUTU - ANGGIT SATRIYO, Jakarta
---------------------------------------------------------

SEBUAH foto Is Haryanto ukuran 10R diletakkan di meja ruang tamu kediamannya di Jalan Haji Nawi Dalam No 19, Jakarta Selatan, kemarin siang (31/5). Di salah satu sisi foto berbingkai kayu itu, patung mungil Bunda Maria dan Jesus diletakkan beserta mawar plastik dalam pot. Dua lilin putih mengapit foto lelaki pencipta lagu dan penyanyi itu.

Enam hari sudah Is Haryanto meninggal dunia, tepatnya sejak Selasa (26/5) lalu. Meski demikian, rumah lelaki pencipta tembang Rek Ayo Rek itu masih ramai dengan sanak saudara. "Kami menyiapkan tujuh hari Papa. Makanya masih ramai," kata putri pertama Haryanto, Vien Adiyanti, saat ditemui Jawa Pos di rumahnya.
Is Haryanto adalah maestro pencipta lagu yang sangat populer pada 1970-1980-an. Bahkan, sampai sekarang lagu-lagunya dinyanyikan ulang. Lagu-lagunya yang banyak didengar dulu adalah Sepanjang Jalan Kenangan, Hilang Permataku, dan Tanpamu.

Di luar itu, ada ribuan lagu yang sudah diciptakan lelaki asli Solo tersebut. "Papa sih dulu pernah bilang, katanya, ada kalau 3 ribu lagu yang sudah diciptakan," ujar Vien.

Is Haryanto dikenal sebagai pencipta lagu yang nyentrik. Dia tampak lekat dengan kacamata hitam. Setiap kali tampil di depan publik, dia selalu mengenakan kacamata hitam. Bahkan, menemui tamu di ruang tamu saja dia enggan mencopot kacamatanya. Begitu pula berfoto dengan keluarga, dia juga mengenakan kacamata hitam. Ada rahasia di balik kacamata itu.

"Papa itu orangnya sebenarnya pemalu. Tiap kali ketemu orang, dia selalu takut untuk menatap mata lawan bicara. Makanya dia pakai kacamata hitam biar bisa berani sama orang," ujar Vien lantas terkekeh mengenang ayah tercintanya itu.

Lagu yang diciptakan Haryanto beragam. Mulai langgam Jawa hingga pop. Bahkan, lagu Rek Ayo Rek yang identik dengan masyarakat Surabaya pun lahir dari kepiawaiannya mencipta lagu. Beberapa orang barangkali sempat mengira tembang yang dipopulerkan Mus Mulyadi itu diciptakan oleh arek Suroboyo asli. Ternyata, lagu itu justru diciptakan cah Solo yang pintar memainkan diksi khas daerah setempat.

Dalam lagu Rek Ayo Rek, misalnya. Haryanto menggunakan kata-kata Surabaya yang khas. Misalnya, Tunjungan (salah satu tempat perbelanjaan di Surabaya), Rujak Cingur (makanan khas), dan kata Rek sebagai sapaan akrab untuk pemuda Surabaya. "Apalagi, dulu yang nyanyiin Om Mus (Mus Mulyadi, Red). Dia kan logatnya Surabaya banget," ujar Vien.

Vien mengaku tak tahu asal-usul lagu itu. Namun, Haryanto memiliki adik kandung yang pernah tinggal di Kota Pahlawan itu. Namanya Bambang Riyanto. Haryanto pun sempat berkunjung ke rumah Bambang beberapa kali sebelum akhirnya adiknya pindah ke Bali. "Barangkali, karena sering main ke sana, Papa punya inspirasi menciptakan lagu itu. Tapi, ini barangkali lho ya. Saya takut salah ngomong," ujar wanita yang menyemir cokelat rambutnya itu. Karena cukup identik dengan Surabaya, karena lagu itu, Haryanto pernah mendapat penghargaan dari wali Kota Surabaya.

Sebagai anak pertama, hubungan Vien cukup dekat dengan ayahnya. Wanita berkulit putih itu cukup hafal perilaku ayahnya yang kadang nyeleneh saat menciptakan lagu. "Pernah, Papa di kamar kecil lama banget. Ternyata, Papa mendapat inspirasi lagu di situ. Nah, dia langsung menuliskan lirk-lirik lagu itu di kertas koran," ujarnya.

Ibu satu anak itu menuturkan, ayahnya memang tak secara langsung mengarahkan anaknya untuk bermusik. Semua keinginan anak dibebaskan. Dari semua anak Haryanto, yang paling kentara mewarisi darah seni adalah Vien sendiri. "Adik saya yang terakhir juga sih. Dia sudah siap mengeluarkan album. Tapi sampai sekarang masih belum," katanya.

Vien dulu pun sempat menjadi penyanyi cilik. Dia sempat tenar bersama penyanyi cilik lainnya, Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo. "Itu sudah lama banget. Waktu saya masih umur enam tahunan," katanya. Apa saja lagunya" "Yang sempat terkenal dulu itu ya Bebek-Bebekku," ujarnya lantas tersenyum.

Namun, seperti rekan seangkatannya, karir musik Vien tidak dilanjutkan ketika dia dewasa. Dia lebih memilih jalan menjadi orang kantoran. Yakni, bekerja sebagai karyawan kantor sebuah perusahaan asuransi. Vien menuturkan, sebelum meninggal, Haryanto sempat meninggalkan wasiat. Saat itu, sekitar sepuluh hari sebelum masuk rumah sakit, Haryanto meminta istrinya, Ida Rusdawati, dan kelima anaknya berkumpul di kamar.

Kamar tersebut merupakan ruang istirahat sekaligus ruang kerja Haryanto. Kamar itu juga menjadi tempat penyimpanan ribuan karyanya. Paling tidak, ada tiga lemari besar yang digunakan untuk menyimpan karyanya. Isinya bermacam-macam. Mulai master lagu-lagunya hingga teks-teks dan ratusan kaset.
Haryanto sudah merasa bahwa garis kematiannya sudah dekat. Di depan tumpukan karyanya, Haryanto berpesan agar anak-anaknya menyelamatkan semua lagu yang pernah diciptakan Haryanto.

"Papa bilang, semua lagu itu harus diselamatkan. Terutama untuk royaltinya. Harus diurus. Semuanya diserahkan kepada anak-anak," katanya. Acara itu adalah acara terakhir kumpul-kumpul keluarga. Sejak itu, kondisi Haryanto memburuk hingga berkali-kali masuk rumah sakit.

Mengurusi lagu-lagu itu tidak gampang. Sebab, lagu yang diciptakan Haryanto mencapai ribuan. Semuanya tersimpan dalam tiga lemari di kamar Haryanto. Vien mengatakan, keluarga akan mendata semua lagu itu. Lemari itu bakal dibongkar dan semua master dan lagu di dalamnya akan diinventarisasi. "Sekarang kondisinya masih kacau. Tumpukannya tinggi banget," katanya. Bukan hanya itu. Di kamar tersebut ada lagu-lagu Haryanto yang belum dirilis.

Semasa hidup, Haryanto memang mengalami masalah soal royalti. Kontribusi yang dia dapat dari penggunaan lagu-lagunya tidak optimal. Sebab, mereka yang mengurusi royalti sering bertindak tidak profesional. Pendapatan yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan. "Papa tidak pernah menjual lepas lagunya. Semuanya dengan royalti yang harus dibayar tiap lagu digunakan," katanya.

Padahal, lagu-lagu Haryanto digunakan di mana-mana. Tak semuanya memberi kontribusi kepada keluarga Haryanto. Untuk mengatur royalti itu, keluarga Haryanto akan dibantu begawan musik Bens Leo. Mulai penghitungan hingga hak dan kewajiban penggunaan lagu-lagu Haryanto. "Kami kan tidak seberapa paham dengan royalti. Barangkali Mas Bens Leo bisa bantu," katanya.

Haryanto meninggal karena serangan kanker rectum. Kanker itu menunjukkan tanda-tandanya sejak empat tahun lalu. Vien menuturkan, saat itu Haryanto mengeluhkan sakit yang melilit perutnya. Namun, Haryanto tak pernah mau disebut sedang sakit. "Papa selalu bilang kalau dia sehat-sehat saja," katanya.

Setelah perayaan Natal 2008, keluarga membawanya untuk bertemu salah seorang pejabat Rumah Sakit Karyadi, Semarang, yang kebetulan dekat dengannya. Sejak itu Haryanto mau diperiksa. Tim dokter langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dari situ, baru ketahuan kalau terdapat kanker di bagian rectum. "Kami sempat menawarkan operasi. Tapi, Papa menolak. Memang, sih operasi tak menjamin kesembuhan," katanya.

Haryanto hanya mau pengobatan alternatif dan menjalani perawatan di rumah. Namun, itu pun tak menjamin kondisinya membaik. Kondisinya semakin parah. Karena kehilangan banyak darah, Haryanto sampai harus transfusi hingga beberapa kali. "Enam kali Papa masuk rumah sakit untuk tranfusi," katanya.

Terakhir Haryanto kembali masuk RSPP pada Rabu (20/5) pekan lalu. Kondisinya tak juga membaik. Akhirnya, pada Senin malam (25/5) Haryanto memaksa pulang. Keluarga pun menurut. "Begitu sampai di rumah, Papa langsung nyenyak sekali tidurnya. Papa bilang senang sampai di rumah," katanya. Rupanya, tidur itu adalah penanda istirahat panjang bagi Haryanto. Dia kemudian koma dan akhirnya meninggal esok harinya. (iro)
SHARES
TAGS  
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar