Kembangkan Teknologi Budi Daya Kedelai Guna Kurangi Impor

Kembangkan Teknologi Budi Daya Kedelai Guna Kurangi Impor
Ngobras Penyuluhan volume 12 dengan tema Inovasi Kedelai Indonesia, Selasa (15/3). Foto: Humas Kementan

"Pertama, agenda SOS, yakni stabilisasi harga, pasokan tidak boleh ada yang terganggu sehingga ketersedian harus dipastikan aman. Harga tidak boleh terlalu turun, dan tidak boleh terlalu naik, khawatirnya konstraksi ini hanya sementara," ujarnya.

Mentan menambahkan SOS menjadi agenda 100 hari. Kedua, agenda temporary, yakni dalam 200 hari kedepan produktivitas lokal harus ditingkatkan.

Ketiga, agenda panjang Indonesia bisa memasok kebutuhan kedelai secara mandiri sehingga saat negara lain mengalami kendala tidak berimbas di dalam negeri.

"Masyarakat kita rata-rata pemakan tahu-tempe, jadi, kedelai ini tidak boleh bersoal. Kita segera lakukan langkah konkret di lapangan sebagai upaya menstabilkan harga dulu. Mudah-mudahan harga stabil bukan hanya di Jakarta, tetapi di Jawa serta daerah lain juga," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Manusia (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan apabila suplai pangan di internasional turun, maka secara hukum ekonomi harga pangan akan naik diseluruh negara termasuk Indonesia.

Dedi memaparkan untuk kebutuhan tahu dan tempe sebanyak 80 sampai 90 persen Indonesia masih impor, dengan kebutuhan kedelai tiga juta ton per tahun.

“Ini peluang untuk petani kedelai genjot produktivitas, kurangi ketergantungan impor kedelai, tanam kedelai sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional,” ujar Dedi saat Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan volume 12 dengan tema Inovasi Kedelai Indonesia, Selasa (15/3) di AOR BPPSDMP, Jakarta.

Narasumber Ngobras, Moch Muchlish Adie, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Balitkabi mengatakan tanaman kedelai sangat menguntungkan dengan adanya berbagai teknologi budi daya pada berbagai agro ekosistem.

Pengawalan dan pendampingan teknologi di lapang sangat diperlukan untuk budi daya kedelai untuk mengurangi impor.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News