Kesaksian Para Korban Bom Bunuh Diri yang Nyawanya Nyaris Terenggut

Beni Selamat Berkat Tembok dan Sepeda Onthel

Kesaksian Para Korban Bom Bunuh Diri yang Nyawanya Nyaris Terenggut
Kesaksian Para Korban Bom Bunuh Diri yang Nyawanya Nyaris Terenggut
   

"Saya kalau ke gereja naik sepeda onthel. Sepeda ini selalu saya selipkan di tembok sebelah pintu gereja. Jaraknya paling 2-3 meter dari pintu masuk utama. Jadi, saya diselamatkan tembok tempat menyimpan sepeda itu," ujar Beni yang sehari-hari menjadi karyawan warung ayam kremes ini.

Saat itu, setelah kebaktian, Beni langsung keluar menuju sepedanya yang diparkir dengan cara diselipkan di tembok. Baru saja dia memegang setang sepeda, tiba-tiba suara keras terdengar. Sejurus kemudian, berbagai serpihan benda keras terbang di depannya. Beni sempat melihat benda-benda yang terbang tersebut seperti baut dan paku.

Beni saat itu berada sekitar satu meter dari pelaku. Dia selamat karena tubuhnya terhalang tembok, tempat dia menyimpan sepeda onthelnya. Meski terhalang tembok, tubuh Beni tetap terpental. Itu terjadi akibat kerasnya ledakan. Dia menjadi salah satu di antara 19 korban bom yang dilarikan di RS Dr Oen kemarin (25/9).

Pihak gereja mengantarnya ke rumah sakit setelah dia tak sadarkan diri karena terlempar dua meter dari sepedanya. "Saya kira neon meledak, Mas. Soalnya, yang mengenai badan saya pecahan lampu, terus kelihatan asap putih," terangnya.

Insiden bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Kepatihan Solo, menyisakan trauma bagi para korban. Inilah kisah mereka yang nyawanya nyaris terenggut itu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News