Ketika Dokter Menggeluti Dunia Jurnalistik

Ketika Dokter Menggeluti Dunia Jurnalistik
DARI FK UNAIR: Tim redaksi bersama alumni saat peluncuran majalah dokter Rabu (29/1). Dipta Wahyu/Jawa Pos/JPNN.com

Sementara itu, Prof Yogiantoro dan Prof Siti Moesbadiany mengaku senang bisa berbagi cerita untuk pembaca majalah yang memiliki moto sharing and caring itu. Keduanya menghiasi rubrik Takikardi, Love Story. Mereka berbagi resep menjaga pernikahan tetap langgeng.

Ada juga Dr Kery R. Kertosen SpOG. Dia dipilih karena merupakan angkatan pertama dokter FK Unair yang berasal dari Merauke, Papua. Sebagai seorang anak petani, Kery tidak menyangka bisa menjadi dokter. Meski sudah jadi dokter, kecintaannya pada tanaman tidak pernah padam. Karena itu, selain menjalani profesi dokter, dia berkebun kangkung dengan lahan seluas 5 hektare. Kery juga sangat menyukai mangga hingga memiliki 40 jenis varietas mangga layak ekspor. ”Alhamdulillah, dari kebun kangkung saya bisa mempekerjakan 15 orang. Ini kepuasan tersendiri. Jadi, saya dikenal dokter petani yang ahli seksualitas,” ujarnya disambut tawa undangan.

Kery menyatakan, majalah dokter penting sebagai sarana silaturahmi antaralumnus. Dia pernah merasakan betapa sulitnya menjalin komunikasi dan memperoleh informasi bagi dokter yang bertugas di pulau terpencil.

Alumnus FK Unair angkatan 1968 itu mengungkapkan pernah bertugas sebagai dokter inpres di Fak Fak, Papua. Daerah tersebut jauh dari kata modern. Menuju kantor kecamatan harus berjalan kaki. TV pun tidak ada. Koran dikirim per bulan. Saat ada rekan dokter ke Papua, Kery baru bisa bertukar informasi. ”Majalah ini bisa dibagikan ke alumni di perbatasan. Bisa memotivasi dan mempererat ikatan,” ucapnya.

Kemudian, Prof Indropo Agusni menambahkan, pihaknya bangga dengan pemberian nama dokter. Semua fon yang dipakai kecil karena memiliki makna dokter itu humble dan tidak boleh sombong. Selain itu, tulisan dokter tersambung semua sebagai tanda jalinan persaudaraan antaralumnus. Terakhir, huruf e dibuat miring yang berarti dokter juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Di balik suksesnya peluncuran tersebut, ada para dokter yang memberikan waktu luang demi membidani majalah itu. Pimpinan editorial dokter dr Evy Ervianti SpKK menyatakan bersyukur majalah tersebut bisa terwujud.

Perjuangannya tidak mudah. Persiapan dilakukan sejak Oktober tahun lalu. Para penggawa majalah tersebut harus melongok internet hampir setiap hari untuk mencari tampilan majalah terbaik. Mereka tidak jarang terlibat perdebatan sengit untuk menentukan format. Mulai fon, visi misi, hingga layout. Mereka tidak mau penampilan majalah itu biasa saja. ”Kami tidak mau ecek-ecek dan membosankan. Dilihat sebentar dan ditaruh lagi,” ungkapnya.

Evy pun meminta masukan dari para dokter atas terbitnya majalah perdana itu. Dia juga akan berupaya mewujudkan harapan para dokter agar majalah tersebut tidak bernasib sama dengan para pendahulunya. Yakni, mati dan tidak terbit lagi. Dia berkomitmen untuk kontinu memproduksi dokter. Edisi perdana dicetak 2.000 eksemplar dan diberikan gratis kepada alumni. Jumlah alumni mencapai 9.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dokter identik dengan praktik layanan kesehatan dan orasi ilmiah. Ikatan Alumni FK Unair membuktikan, para dokter juga jago di bidang jurnalistik.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News