Kisah Nayak Ambrosius, Korban Harga Tiket Pesawat Mahal

Kisah Nayak Ambrosius, Korban Harga Tiket Pesawat Mahal
Pesawat Lion Air. Ilustrasi Foto: SIRTU/LOMBOK POST/JPNN.com

Menurutnya tiket pesawat mahal ini tak hanya mempengaruhi mobilitas warga. Namun juga harga barang di Papua. Dia menceritakan, pekan lalu Ambrosius telepon dengan temannya di Lanijaya.

Temannya ingin mendirikan kios namun terhambat harga semen. ”Kata teman saya harga semen sampai Rp 6 juta,” bebernya.

Dia bukan satu-satunya yang merasakan dampak. Akhirnya masyarakat mendesak agar ada perhatian dari pemerintah. Di media sosial, Menteri Perhubungan diminta untuk tanggungjawab. Namun hal ini disayangkan pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo.

”Kemenhub jangan intervensi harga tiket penerbangan, kecuali peraturan perundang-undangannya mulai dari UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan dan turunannya direvisi. Jika Menhub mengikuti keinginan publik untuk mengatur harga tiket penerbangan, maskapai berhak menuntut Menhub karena menyalahi peraturan penerbangan yang berlaku,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos.

Menurut Agus, Kemenhub harusnya fokus pada kesleamatan transportasi. Apalagi mengingat angka kecelakaan masih tinggi. Tugas lain Kemenhub adalah mengatur Tarif Batas Atas (TBA) dan tarif batas bawahuntuk menjaga supaya terjadi persaingan sehat antar-maskapai penerbangan.

Dia menjelaskan, seharusnya melejitnya harga tiket juga menjadi tanggung jawab Menteri BUMN dan Menteri ESDM. Kebijakan tarif tiket maskapai untuk maskapai Garuda Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian BUMN.

Kementerian ini sebagai wakil pemerintah yang merupakan pemegang saham korporasi terbesar. ”Direksi Garuda Indonesia harus patuh kepada kebijakan Menteri BUMN jika terkait usaha, bukan Kemenhub,” ucapnya.

Menurutnya harga tiket Garuda Indonesia memang menjadi patokan maskapai penerbangan lain termasuk yang LCC. ”Jadi kalau harga tiket Garuda naik semua ikut naik. GA pemimpin pasar bagi maskapai domestik lainnya,” ujarnya.

Nayak Ambrosius gagal ujian tesis semester ini karena tidak mampu membayar harga tiket pesawat yang masih mahal.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News