Kritikan Fadli Zon untuk Rekor Bu Menkeu Cetak Utang Baru

Kritikan Fadli Zon untuk Rekor Bu Menkeu Cetak Utang Baru
Fadli Zon. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI Fadli Zon mengingatkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bahwa utang bukan prestasi yang membanggakan. Mantan wakil ketua DPR itu mengaku tidak habis pikir ketika mendengar pernyataan Menkeu yang menarasikan peluncuran global bond atau surat utang global berdenominasi mata uang dolar AS (USD) beberapa hari lalu dengan nada penuh kebanggaan.

“Seolah itu sebuah prestasi. Utang memang bukan aib, tetapi makin besar utang pemerintah, para pejabat publik seharusnya memperbesar rasa malu, bukannya menebar kebanggaan,” ujar Fadli melalui layanan pesan, Minggu (12/4).

Sebelumnya menteri yang kondang dengan inisial SMI itu menerbitkan sovereign bond senilai USD 4,3 miliar atau setara Rp 68,8 triliun (kurs USD setara Rp 16.000). Angka itu merupakan rekor karena menjadi sovereign bond terbesar dalam sejarah Republik Indonesia.

Fadli menegaskan, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang menerbitkan sovereign bond di tengah pandemi Covid-19 sama sekali tidak menunjukkan kehebatan. Malah sebaliknya, hal itu menunjukkan betapa ringkihnya perekonomian kita.

“Begitu rapuhnya ekonomi kita, sehingga meskipun krisis baru saja dimulai, kita sudah membutuhkan suntikan utang dalam jumlah besar. Sekali lagi, tak sepatutnya hal semacam itu diceritakan sebagai sebuah kebanggaan, apalagi prestasi,” tegasnya.

Lebih lanjut Fadli memerinci, sebelum ada pandemi Covid-19 pun pemerintah membutuhkan utang baru setidaknya Rp 351,9 triliun untuk menutup defisit APBN. Pada saat bersamaan, Pemerintah juga harus melunasi utang jatuh tempo sebesar Rp 389,98 triliun.

“Artinya, pada tahun ini pemerintah membutuhkan utang sebesar Rp 741,84 triliun untuk kebutuhan pembiyaan. Itu adalah perhitungan sebelum adanya pandemi,” tutur alumnus London School of Economics (LSE) Inggris itu.

Fadli mencatat realisasi Surat Berharga Negara (SBN) pada kuartal I 2020 mencapai Rp 243,83 triliun, alias sekitar 33,15 persen dari target penerbitan SBN tahun ini. Namun, katanya, angka-angka itu belum memperhitungkan efek krisis Covid-19.

Fadli Zon menyayangkan Menkeu Sri Mulyani yang baru saja menerbitkan surat surat utang global berdenominasi dolar AS (USD) dan menarasikannya sebagai kebanggaan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News