Lab 45 Sebut Indonesia Butuh Rp 3.600 Triliun untuk Optimalisasi Ekonomi Biru

Lab 45 Sebut Indonesia Butuh Rp 3.600 Triliun untuk Optimalisasi Ekonomi Biru
Seminar Transformasi Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045 yang dilakukan oleh Lab 45 bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (FPIK UNSRAT) dan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) Sulawesi Utara, Jumat (27/10). Foto: dok Lab 45

jpnn.com, JAKARTA - Kajian mengenai potensi ekonomi biru serta proyek-proyek strategis yang dilakukan pada 2021 dan 2023 menunjukkan adanya hasil yang sangat positif.

Namun, senior fellow Lab 45 Riza Damanik mengatakan bahwa kajian ini menunjukkan bahwa pengembangan sektor ekonomi biru masih belum terdiversifikasi dan hanya berfokus pada perikanan dan pariwisata.

Hal itu dikatakan Riza dalam seminar Transformasi Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045 yang dilakukan oleh Lab 45 bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (FPIK UNSRAT) dan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) Sulawesi Utara, Jumat (27/10).

Oleh karena itu, demi mengoptimalkan potensi ekonomi biru Indonesia diperlukan investasi proyek strategis hingga lebih dari Rp 3.600 triliun termasuk untuk konservasi, pengembangan nelayan dan wilayah pesisir, serta pemanfaatan EBT kelautan yang dibagi mulai dari 2022, 2035, hingga 2045.

"Demi mencapai target tersebut, setidaknya terdapat 5 hal penting yaitu; konsistensi regulasi, tata kelola kelembagaan, pemutakhiran data dan informasi, teknologi dan inovasi pengungkit, serta realisasi investasi," ujar Riza.

Menurut Riza, demi mencapai predikat negara maju sumbangan sektor ekonomi biru harus mencapai 12,45 persen.

Kontribusi ekonomi biru terhadap PDB nasional hingga saat ini hanya mencapai 3,6 persen. Padahal Indonesia merupakan negara dengan kekayaan dan potensi maritim yang sangat besar yang mencapai USD 1,33 triliun, tetapi hingga saat ini realisasinya baru mencapai USD 85,08 miliar.

Selain itu, dibutuhkan kesadaran mahasiswa, khususnya FPIK dan FEB serta masyarakat umum terhadap potensi ekonomi biru di Indonesia.

Kajian mengenai potensi ekonomi biru serta proyek-proyek strategis yang dilakukan pada 2021 dan 2023 menunjukkan adanya hasil yang sangat positif.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News