Lapas Sukamiskin setelah Ditetapkan sebagai Objek Wisata Sejarah

Kamar Bung Karno Membuat Pengunjung Penasaran

Lapas Sukamiskin setelah Ditetapkan sebagai Objek Wisata Sejarah
Pius Harjadi menunjukkan barang-barang yang menghiasi kamar tahanan Bung Karno di Lapas Sukamiskin, Bandung. Foto: Maya Apriliani/JAWA POS
Kompleks Lapas Sukamiskin memiliki arsitektur modern yang dirancang arsitek Belanda Prof Ir Charles Prosper Wolf Schoemaker. Kontraktor yang membangun adalah Lim A Goh, keturunan Tiongkok. Penjara itu mulai digunakan pada 1924. Saat penjajahan Jepang, sang arsitek dan kontraktornya sempat merasakan pengapnya penjara tersebut.

 

Luas lahan Lapas Sukamiskin sekitar 6 hektare. Empat hektare untuk perkantoran dan kamar hunian yang terbagi atas empat blok. Yakni, barat, timur, utara, dan selatan. Lapas itu dibangun dua lantai dengan kapasitas 547 penghuni.

 

Menurut Pius, hingga kini sudah ada lima kelompok wisatawan dari dalam dan luar negeri yang berkunjung ke Lapas Sukamiskin. Selain bisa melihat kamar bersejarah, para pengunjung dapat melihat masjid dan gereja peninggalan penjajah di kompleks itu. Juga, ada percetakan kuno dengan mesin cetak yang berusia lebih dari seratus tahun. Mesin cetak tersebut dipakai untuk mencetak buku register yang didistribusikan ke lapas dan rutan di seluruh Indonesia.

 

Para wisatawan juga bisa melihat bengkel kerja dan ruang pamer hasil karya para napi. Ada hasil percetakan, kaligrafi, handicraft, sablon, hasil pertanian hingga perikanan. "Pengunjung juga bisa membeli hasil karya penghuni," kata Wayan Dusak.

 

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin, Bandung, seolah "hidup" lagi. Rumah tahanan bagi para koruptor itu kini juga menjadi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News